Senin, 10 September 2012

BAB 1 Filsafat Timur Hendry



Diktat Filsafat Timur

Bab I. Sekilas perbandingan Filsafat Barat dan Filsafat Timur

A.    Pengantar
Kita sudah sering mendengar tentang Filsafat Barat yang sudah begitu berkembang dan begitu berproses. Pusat dari dunia filsafat barat adalah Yunani. Kini kita akan sejenak mengalihkan perhatian kita pada dunia filsafat yang lain, yaitu Filsafat Timur. Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya India, Tiongkok dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya.
Berbeda dengan filsafat barat yang sangat diwarnai dengan kekhasan mereka yaitu kritis dan sistematis, Filsafat timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak sistematis dan tidak Kritis. Ini yang kemudian menjadi alasan mengapa Filsafat Timur tidak dianggap sebagai filsafat. Sebuah ciri khas filsafat timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Tidaklah mengherankan kalau kemudian filsafat timur lebih dipandang sebagai filsafat agama juga, meski sebenarnya termasuk falsafah hidup. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kemudian banyak orang melihat filsafat Timur sebagai kepercayaan religius atau agama.
Jika pemikiran Timur dianggap sebagai agama, maka pemikiran itu tidak dapat disebut filsafat, mengingat keduanya memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. Meskipun sama-sama bertujuan menemukan kebenaran, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Agama mengajarkan kepatuhan; filsafat mengandalkan kemampuan berpikir kritis yang sering tampil dalam perilaku meragukan, mempertanyakan, dan membongkar sampai ke akar-akarnya. Pengetahuan yang oleh agama wajib diterima, dalam filsafat seringkali (hampir selalu) digunakan, dipertanyakan dan dibongkar sampai ke akar-akarnya, untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang dianggap lebih masuk akal.
Memang ada pemikir yang melihat agama dan filsafat sebagai dua bidang yang sejalan. Santo Agustinus dan Thomas Aquinas sebagai filsuf yang juga agamawan Kristiani, misalnya, berpendapat agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. Dari khasanah Islam, Iqbal, menegaskan bahwa agama Islam dan filsafat semestinya beriringan untuk mencapai kebenaran. Tetapi, pada praktiknya sangat sulit untuk menyandingkan keduanya. Selalu ada yang mesti dikorbankan, yang satu harus menjadi subordinat yang lain.
Dalam pemikiran Eropa, agama dan filsafat lebih sering dibedakan. Filsafat juga sering dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science). Bertrand Russell memberi pengertian metaforis terhadap filsafat sebagai “... the no-man’s land between science and theology. Exposed to attack from both sides.” Filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya. Di sisi lain, filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerang ilmu dan teologi. Jadi, jika pemikiran Timur dianggap agama, maka wajar saja pemikiran itu digolongkan sebagai bukan filsafat. Filsafat dimanfaatkan oleh banyak bidang yang bertikai, seperti ilmu pengetahuan dan agama, pertikaian antar-agama dan pertikaian antar-ilmu.
Di pihak lain, tidak sedikit pula yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai suatu pisau bedah bagi banyak permasalahan filosofis, bahkan mereka mengembangkannya dengan menggunakan sistematika berpikir yang filosofis. Pemikiran filosofis ditegaskan bukan hanya monopoli Barat, tetapi juga menjadi bahan pergulatan manusia Timur dalam hidupnya. Pemikiran etis dari Confusius, contohnya, banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia dan bagaimana manusia mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.
Pemikiran macam ini juga menjadi pembicaraan etika yang hangat dalam pemikiran barat. Sejak Socrates, Plato, dan Aristoteles pembahasan tentang kebahagiaan dan bagaimana manusia mencapainya merupakan bahan perenungan filsafat Barat. Aristoteles, contohnya, mengemukakan bahwa kebahagiaan harus merupakan tujuan pada dirinya sendiri yang dapat tercapai apabila seseorang menjalankan fungsi khasnya sebagai mahkluk rasional. Manusia akan bahagia apabila ia menjalankan hidup dan keutamaan. Hidup, dengan keutamaan pada praktiknya, adalah hidup di mana manusia bisa mengatur perbuatannya dengan rasio yang selalu mengambil kendali atas dorongan-dorongan instinktif yang menyesatkan ( MacIntyre, 1996).

B. Pemikiran Timur sebagai Filsafat
Kalau kita berpikir bahwa filsafat adalah pemikiran yang harus memenuhi kriteria yang digunakan dalam filsafat barat, maka sulit diterima untuk menggolongkan pemikiran timur sebagai filsafat. Berbeda dengan filsafat Barat, pemikiran Timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat Barat, seperti pembagian bidang kajian filsafat menjadi metafisika, epistemologi, dan axiologi. Selain itu pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja oleh penganutnya tanpa suatu kajian kritis terlebih dahulu, sehingga banyak pemikir filsafat yang mengklaim pemikiran Timur sebagai agama. Beberapa kajian terhadap pemikiran Timur juga menunjukkan kurangnya telaah kritis terhadap pemikiran timur yang dilakukan oleh mereka yang mendalaminya. Mereka sering menafsirkan, berusaha memahaminya, kemudian mengamalkannya. Dari sini terkesan pemikiran Timur hanya seperangkat tuntutan praktis untuk menjalani hidup atau sebagai serangkaian aturan bagi  manusia untuk mencapai kebahagiaan. Itu semua bukanlah patokan yang menentukan apakah pemikiran timur dapat digolongkan sebagai filsafat atau tidak.
Di barat sendiri pengertian filsafat sudah makin bergeser. Kalau kita bicara tentang sistematika, filsafat barat mutakhir, seperti filsafat yang ditampilkan oleh Richart Rorty, Quinne, dan Derrida sudah tidak berbicara soal pembagian bidang kajian filsafat lagi. Rorty bahkan menyatakan epistemologi –bidang filsafat yang mengkaji seluruh pengetahuan yang mungkin diperoleh manusia mulai dari asal usulnya, bagaimana cara mendapatkannya, sampai pengujian benar salahnya-sudah mati.
Sampai di sini terlihat bahwa alasan pemikiran Timur bukanlah filsafat karena tidak memiliki sistematika yang harus dimiliki filsafat tidak relevan lagi. Pemikiran Timur bisa jadi merupakan suatu bentuk filsafat meski tanpa sistematika seperti yang ditampilkan filsafat Barat.
Dalam mempertanyakan kriteria barat dalam penilaian kualitas sebuah pemikiran filosofis, Foucault mengajukan tesis yang menarik tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Foucault melihat bahwa suatu patokan keilmuan atau filosofis tertentu sangat dipengaruhi (kalau tidak bisa disebut ‘ditentukan’) oleh kekuasaan yang dimiliki pihak-pihak penyampai patokan-patokan itu. Tesis Foucault ini dapat membantu kita memahami mengapa barat cenderung menolak filsafat Timur. Dalam penentuan apakah pemikiran Timur merupakan filsafat atau bukan filsafat, selama ini Barat-lah yang berperan secara dominan. Kita tahu bahwa dominasi Barat dan Timur sangat besar, apalagi dalam ilmu dan filsafat. Penentuan pemikiran Timur sebagai ‘bukan filsafat’ tak lepas dari pengaruh kekuasaan Barat yang memaksaka kriteria-kriteria mereka kepada pemikiran Timur. Memang secara etimologis (asal-usul kata) istilah filsafat muncul di Barat, namun filsafat bukanlah monopoli Barat. Timur juga punya begitu banyak pemikiran yang tak kalah dalam, dan bahkan beberapa lebih mendalam, lebih analitis dan kritis daripada pemikiran Barat.
Fu Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. Mengingat asal kata filsafat (philosophy) adalah philos dan sophis, dengan arti ‘cinta akan kebenaran’, maka filsafat Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat. Pemikiran Timur adalah proses dan hasil usaha manusia untuk memperoleh kebenaran yang didasari rasa cinta mereka kepada kebenaran. Pendeknya, sebuah pemikiran yang berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan didasari oleh kecintaannya pada kebenaran dapat disebut filsafat. Pendapat Fung Yu Lan ini jauh-jauh hari sudah dikemukakan oleh Socrates yang kemudian dikutip oleh Plato dalam Phaedrus.
Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankannya dengan argumentasi yang kuat, patut disebut filsuf. Mereka adalah pecinta kebijaksanaan atau wisdom. Dengan dasar ini pemikiran-pemikir Timur seperti Confucius, Lao Tze, dan Sidharta Gautama layak disebut filsuf. Dengan demikian buah pikirannya dapat digolongkan sebagai pemikiran filosofis.
Batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan yang sejalan dengan Socrates dan Plato ini sering dianggap masih terlalu umum. Pengertian kebenaran atau kebijaksanaan di sini masih belum jelas. Pengertian kebijaksanaan atau wisdom perlu kita perjelas di sini.
Kata wisdom, yang kadang diterjemahkan sebagai kebijaksanaan dan kadang sebagai kebenaran, menurut Brand Blanshard dalam The Encyclopedia of Philosophy (vol. 8, hal 322-324) diartikan sebagai, “... a practical knowledge based on reflection and judgment concerned with the art of living.”
Wisdom sebagai pengetahuan praktis yang didasari oleh refleksi dan penilaian disertai dengan kepedulian terhadap seni kehidupan tampil pula dalam pemikiran para pemikir Timur seperti Sidharta Gautama dan sangat luas dan umum. Blanshard menilai banyak filsuf modern mengabaikan pencapaian kebijaksanaan dengan dua kemungkinan alasan: pertama karena merasa bahwa penilaian terhadap apa yang digolongkan sebagai kebijaksanaan lebih didasari oleh perasaan (feelings) dan keinginan/nafsu/gairah (desires atau passion) ketimbang pengetahuan. Kedua, penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit dipertahankan dengan argumentasi logis.
Namun, menurut Sanderson Beck penggunaan perasaan, gairah dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. Perasaan, gairah, dan intuisi merupakan sesuatu yang manusiawi. Manusia diperkaya oleh kemampuan-kemampuan non-rasional itu untuk menjalani hidupnya. Justru manusia akan jadi timpang jika hanya menggunakan rasio saja. Intuisi, informasi-informasi yang diperoleh lewat perasaan dan gairah merupakan modal awal manusia untuk memahami lingkungannya. Rasio kemudian membantu memperjelas dan mempertajam pemahaman itu. Beck menunjukkan hal itu dengan percobaannya menemukan pengertian wisdom secara intuitif, kemudian mengkajinya secara rasional.
Beck berpendapat, “Wisdom is the knowledge of and action for the highest good of all concerned.” Bagi Beck, kebijaksanaan atau wisdom adalah pengetahuna tentang dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi dalam segala aspek. Ada dua kondisi yang niscaya (necessary conditions) yang harus ada dalam pengertian kebijaksanaan dan keduanya tak bisa berdiri sendiri:
1)      Pengetahuan tentang kebaikan tertinggi (knowledge of the highest good); dan
2)      Tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi (action for the highest good)
Mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar saja bukanlah kebijaksanaan. Begitu pula mengerjakan sesuatu yang benar tanpa tahu bahwa itu benar. Untuk dapat menilai seseorang sebagai orang bijaksana, keduanya harus tampil sekaligus pada diri orang itu. Perolehan pengetahuna tentang kebaikan tertinggi dan tindakan untuk mencapainya melibatkan keseluruhan diri manusia, bukan hanya rasio. Keseluruhan sistem psikofisik manusia terlibat di sini. Perlibatan keseluruhan diri manusia inilah yang terlihat dalam pemikiran-pemikiran timur.
Seringkali dua kondisi niscaya yang terkandung dalam kebijaksanaan inilah yang kemungkinan luput dari pemahaman para pengikut pemikir Timur. Mereka mengamalkan saja ajaran-ajaran para pemikir Timur seperti Confucius dan Sidharta Gautama, dalam tindakan tanpa mengetahui secara mendasar kebaikan tertinggi, tidak akan mencapai mencapai kebijaksanaan. Pembahasan yang hanya membicarakan pengetahuan tertinggi tanpa menjalankannya dalam tindakan juga tidak akan membawa kepada kebijaksanaan. Untuk mencapai kebijaksanaan, mereka harus melibatkan keseluruhan dirinya. Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secara intensif dalam pencapaian kebijaksanaan. Inilah filsafat dalam pengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze, Confucius, Sidharta Gautama, para filsuf Hindu dan Islam.
Selain batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan, kriteria-kriteria yang tercakup dalam pengertian filsafat sebagai upaya memahami segala sesuatu secara kritis, sistematis, dan radikal tetap perlu dipenuhi oleh pemikiran Timur agar pemikiran Timur terbuka pada pengembangan yang lebih luas lagi. Dengan begitu juga dapat dihindari terjadinya pembekuan pemikiran Timur menjadi ajaran dogmatis. Hanya batasan pengertiannya perlu diklarifikasi dan dilepaskan dari ‘wacana’ filsafat Barat. Di sisi lain pemikiran Timur sendiri perlu mawas diri dan membuka diri pada berbagai modifikasi. Pendapat Iqbal dapat dijadikan bahan instrospeksi diri bagi pemikiran Timur. Iqbal mengajak orang-orang Timur untuk menilai secara obyektif isi dari pemikiran Barat, menilai baik-buruk pemikiran itu berdasarkan kualitas isinya, bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya. Iqbal secara kritis menilai pemikiran Barat memiliki banyak keunggulan dan di sisi lain menentang pengagungan rasinalisme Barat dengan argumentasi-argumentasi tajam dan masuk akal. Apa yang dilakukan Iqbal perlu dilakukan oleh para pengembang pemikiran Timur.
Untuk mempertegas kehadirannya sebagai filsafat, belakangan pengkajian pemikiran Timur menyertakan juga pemenuhan kriteria-kriteria yang umumnya diterapkan pada filsafat. Yang pertama kali perlu dijadikan patokan adalah kriteria “filsafat sebagai usaha yang kritis”. Ini merupakan pengertian yang paling penting bagi berkembangnya pemikiran filsafat. Perkembangan pemikiran filsafat membutuhkan adanya dialog, diskusi, adu argumentasi, dan kesiapan membuka diri terhadap berbagai pemikiran. Untuk itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan. Pemikiran Timur yang sudah ada merupakan bahan material yang perlu diolah sedemikian rupa secara kritis dan terbuka terhadap berbagai modifikasi. Pengolahan yang kritis dan sifat terbuka terhadap perbaikan akan memberi kualitas filosofis yang kental pada pemikiran Timur.
Pada prakteknya, kajian-kajian kritis terhadap pemikiran Timur sudah banyak dilakukan. Perbandingan-perbandingan pemikiran dari para pemikir Timur juga sudah banyak yang diperbandingkan. Sebagai contoh, perbandingan antara pemikiran Confucius dan Socrates yang dilakukan oleh Saderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates: The Teaching of Wisdom.
Kriteria sistematis bukan berarti filsafat Timur harus memiliki bagian-bagian seperti yang dimiliki filsafat Barat yang secara umum mencakup metafisika, epistemologi, dan axiologi. Pemenuhan kriteria antara satu sistem pemikiran dengan lainnya. Dalam pemikiran Cina misalnya, sistematikanya bisa berdasarkan pada konstruksi kronologis, mulai dari proses penciptaan alam hingga meninggalnya manusia yang dijalin secara runut. Yang penting ada alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran, ada masalah yang jelas, ada proses pengolahan informasi sebagai upaya penyelesaian maslah, dan ada solusi bagi masalah itu.
Sifat radikal dalam arti mendalam sampai ke akar-akarnya pada filsafat Timur sudah tampak sejak para pemikir Timur mengemukakan buah pikirannya. Apa yang dilakukan Sidharta Gautama adalah sesuatu yang sangat radikal bagi masanya. Ia mencoba menggali hakikat hidup sampai sedalam-dalamnya. Ia bahkan mencabut akar-akar kehidupan yang lama di India waktu itu dan mengembangkan sistem pemikiran baru yang kini kita kenal dengan Budhisme. Sifat radikal dari pemikiran Timur mungkin tidak banyak ditampilkan oleh para pengikut pemikir-pemikir besar seperti Budha dan Confucius sehingga terkesan dogmatis dan tidak mendalam. Tetapi di akhir abad ke-20, pengkajian Budhisme dan Confucianisme sudah menampilkan sifat-sifat radikal. Budhisme dan Confucianisme siap untuk membedah dan dibedah habis-habisan, terbuka kepada berbagai kemungkinan modifikasi sampai ke akar-akarnya.
Pengertian ketiga kriteria yang diajukan di atas menjadi dasar kategorisasi terhadap pemikiran Timur. Pengertian-pengertian itu memungkinkan berbagai pemikiran lain di luar pemikiran filsafat Barat masuk dalam kategori filsafat. Dengan mendasarkan pada pengertian-pengertian itu, pemikiran Timur, seperti Hinduisme, Budhisme, Daoisme, Budhisme Chan, dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai filsafat.


Filsafat Timur,,Kebijakan dari Timur Menurut Hinduisme


BEBERAPA KEBIJAKSANAAN  DARI TIMUR
MENURUT HINDUISME

Pengantar
Hindu berasal dari India, tepatnya di bagian utara Anak Benua india. Permulaan munculnya sekitar tahun 2000 SM. Pada masa itu berlangsungnya perpaduan kebudayaan bangsa Aria yang berbahasa Indo-Eropa dengan kebudayaan penduduk asli yang diperkirakan berbicara dalam bahasa induk bahasa-bahasa Dravida. Hasil perpaduan dua budaya ini adalah tradisi lisan yang disebut Veda (dalam bahasa Indonesia biasa dibaca ‘Weda’).
Veda dinyanyikan, diucapkan, dan kemudian ditulis. Veda dirujuk sebagai sruti atau ‘yang didengarkan”. Dalam kepercayaan Hindu, Veda diyakini sebagai wahyu kosmik, dalam arti wahyu yang diperoleh manusia dari hasil kontemplasi menghayati alam semesta. Wahyu kosmik tampil dalam seluruh tatanan semesta dan dunia alami yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta  Yang Esa. Wahyu ini semacam ayat-ayat Tuhan yang tidak diucapkan tetapi menampilkan diri dalam semua ciptaanNya (Teadate dalam Ruslani, 2000). Namun, jika dicermati, dalam kebudayaan Hindu. Veda juga memiliki akar-akar non-kontemplatif. Ada pengaruh budaya dan sejarah dalam isi Veda. Dengan kata lain, ada juga unsur-unsur non-alamiah dalam Veda. Dalam Veda terkandung juga kenangan tradisi yang ditulis berdasarkan ingatan para guru atau tetua adat dalam budaya Hindu.
Bahasa Verdik yang digunakan dalam tradisi Hindu merupakan induk dari bahasa Sansekerta. Hasil tradisi lisan ini kemudian menjadi tertulis yang kumpulannya sekarang dikenal sebagai Kitab Veda. Tetapi ketika itu belum dapat dikatakan memuat ajaran agama yang didasarkan pada kepercayaan saja. Keseluruhan alam pikiran dalam Kitab Veda yang terdiri dari filsafat dan agama itu, untuk mudahnya disebut vedisme (Poedjawijatna, 1986). Kitab-kitab Veda berasal dari masa 3000SM yang kemudian juga dilengkapi dengan kitab-kitab lain seperti Upanishad dan Bhagavad Gita.
Semua isi Veda bersangkutan dengan upacara agama, terutama korban. Dalam Vedisme korban sangat penting. Ada korban bagi perorangan dan ada korban umum dari seluruh masyarakat. Ada upacara korban umum yang resmi yang menggunakan ‘petugas’ khusus dalam pelaksanaannya. Jabatan bagi pengurus korban resmi ini biasanya dilakukan secara besar-besaran dengan menyediakan korban sebanyak-banyaknya. Mulai dari menyiapkan persediaan korban sudah ada aturannya. Korban bisa berupa binatang ternak, padi, mentega, minuman, dan bahan makanan lainnya. Yang terpenting, di antara korban itu adalah soma, berupa minuman keras (Chowdhury dalam Radhakhrisnan (ed.), 1957). Penyediaan soma ini juga dilakukan mengikuti aturan tertentu selaras dengan kepentingan persembahannya. Dalam upacara korban, soma ini dinyanyikan pujian-pujian (saman) oleh penyanyi resmi (utgutar). Upacara para korban harus secara tepat mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Jika ada sedikit saja aturan yang terlewat, maka persembahan korban itu dianggap tidak sah (Poedjawijatna, 1986).
Untuk menjaga keabsahan upacara korban, harus ada seorang ahli korban yang berperan sebagai pengorban. Ialah yang dapat menentukan baik tidaknya dan sah tidaknya korban itu. Korban disebut brahma dan ahli korban disebut brahmana. Ada kemungkinan istilah brahma pada awalnya berarti ‘doa’ atau ‘ucapan’ dari asal kata brh yang berarti meletupkan, atau mengungkapkan atau mengembangkan (Raja dalam Radhakrishnan (ed.), 1957). Kata itu digunakan dalam upacara korban arti katanya lalu berubah menjadi korban.
Sehubungan dengan upacara-upacara perngorbanan ini, Veda digolongkan menjadi 4 golongan:
1.      Rig Veda, merupakan Veda tertua, berisi pujian.
2.      Sama-Veda, berisi nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan utgatar waktu orang menyediakan minuman untuk upacara korban yang amat penting.
3.      Yajur-Veda, berisi mantra-mantra dalam bentuk prosa, biasa dipergunakan dalam pengorbanan yang sebenarnya.
4.      Atharwa-Veda, berisi uraian dan doa-doa yang harus dikenal para bhramana.
Menurut Veda, korban dipersembahkan bagi dewa. Banyak dewa yang disebut dalam Veda, tetapi yang utama hanya beberapa saja. Yang paling berkuasa adalah Indra, Dewa Guntur dan Perang. Bangsa Arya sebagai bangsa yang senang perang, sangat sering melakukan persembahan korban kepada Dewa Indra. Selain itu Dewa Vishnu (Penyelenggara alam semesta), Agni (Dewa Api), Surya (Dewa Matahari), Vayu (Dewa Angin), dan Rudra (Dewa Perusak) merupakan dewa utama yang sering dituju oleh persembahan korban. Dewa-dewa tersebut merupakan wakil dari kekuatan alam. Nama dewa-dewa itu dalam bahasa Sansekerta memiliki arti dari kekuatan alam-alam yang diwakilinya.
Selain pengertian tentang korban dan dewa dikenal pula istilah rita yang merujuk pada hukum dan aturan yang mengatur alam dan isinya. Rita juga mencakup hukum  yang mengatur hubungan antara suami-istri, anak-orangtua, pembesar dan bawahan, dan sebagainya. Rita bukanlah dewa. Ia meliputi segala-galanya, baik dewa maupun isi dunia lainnya. Rita tak berkehendak dan tak berbudi yang merupakan aturan dan hukum yang tak boleh diabaikan atau dilanggar. Rita adalah Tuhan sebagai harmoni abadi, suara primordial, getaran, atau frekuensi kehidupan subtil Tuhan di balik wilayah kesadaran biasa, tetapi dapat dicapai melalui kontemplasi (teasdate dalam Ruslani, 2000).
Kesadaran akan rita ini bagi orang Hindu merupakan pangkalan pikiran yang amat dalam. Kesadaran ini memunculkan pertanyaan: “Kalau sesungguhnya rita itu meliputi dewa, dunia dan isinya, maka apa beda dewa dan manusia?” Pertanyaan ini menjadi salah satu pemicu pemikiran filosofis dalam kebudayaan hindu. “Pada intinya tidak terlalu beda antara dewa dan manusia.” Pemikiran ini muncul sebagai jawabannya. Dewa-dewa itu seperti manusia juga, namun dunianya lebih makmur. Sifat mereka agak melebihi manusia, tidak menjadi tua, tidak mati, namun mungkin sedih hati, bingung, cemburu, sombong, bisa tidak baik hati, dan sebagainya.
Pengertian tentang rita dan implikasinya terhadap kesamaan antara dewa dan manusia, lambat laun mengarahkan perhatian para ahli pikir vedisme kepada manusia. Menurut mereka, jika orang sungguh-sungguh dapat memahami manusia sedalam-dalamnya ada kemungkinan dapat memahami alam seluruhnya. Sejarah pemikiran Hindu selanjutnya menunjukkan manusia sebagai perhatian utama dalam pemikiran filosofisnya.
Di dalam masyarakat Hindu, berkembang sistem kasta (golongan) yang menentukan tingkatan status sosial manusia dalam masyarakat. Tingkatan kasta itu adalah: 1) brahmana, 2) Ksatria (bangsawan, raja dan keturunannya), 3) vaisya, dan 4) sudra. Brahmana merupakan kasta yang tertinggi karena ialah penentu sah tidaknya suatu upacara korban. Sementara sah tidaknya korban, menentukan apakah keinginan atau permintaan si Pengorban diterima atau tidak. Menurut tradisi vedisme, upacara korban merupakan kegiatan terpenting yang menentukan kesejahteraan dan keselamatan hidup manusia.
Kaum Brahmana memiliki tugas untuk memahami dan menerangkan Veda kepada kasta yang lain. Untuk dapat menjalankan tugasnya, mereka menjalankan pendidikan brahmana, yang disebut asrama, mulai dari masa remaja hingga masa dewasa akhir. Pendidikan yang mereka jalani meliputi kehidupan praktis sehari-hari sampai merenung dan berpikir mendalam melalui kegiatan bertapa. Seorang brahmana yang matang harus mampu meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya dan kehidupan duniawi.
Pada perkembangan selanjutnya, kaum  brahmana inilah yang mengembangkan pemikiran Hindu yang kemudian menjadi filsafat Hindu atau yang juga disebut brahmanisme (Poedjawijatna, 1986). Para brahmana inilah yang pada awalnya merupakan filsuf-filsuf Hindu. Warisan tertulis dari para brahmana ini berupa penjelasan-penjelasan tentang korban dan arti korban (Kitab Brahmana), renungan-renungan dan keterangannya dalam bentuk kiasan (Kitab Arnyaka), serta kitab Upanishad berupa renungan filosofis yang berpengaruh besar terhadap alam pemikiran Hindu (Raja dalam Radhakrishnan (ed.), 1957).
Dalam Hinduisme, ajaran agama dan filsafat saling melengkapi dan saling menjelaskan. Para brahmana melakukan perenungan filosofis dalam rangka memperkaya pemahaman tentang manusia, alam semesta, dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Para brahmana yang melakukan perenungan filosofis ini dikenal pula dengan sebutan filsuf Hindu. Perenungan para filsuf Hindu ini sudah dilakukan sejak lama dan hasil perenungannya banyak mempengaruhi perkembangan ajaran agama hindu. Dalam buku-buku tentang Hindu, ditunjukkan betapa agama dan filsafat memiliki keterkaitan yang erat. Dengan adanya filsafat dalam Hinduisme, ajaran agama Hindu menjadi dinamis dan banyak mengalami penambahan yang memperutuh pemahaman manusia tentang kehidupan manusia di alam semesta.

Kebijaksanaan Hinduisme dalam Brahman
(Perkembangan Pengertian tentang Yang Maha Kuasa)
Para filsuf Hindu dalam perenungannya tentang manusia, alam, dan dewa-dewi menemukan hal-hal yang tidak memuaskan dalam penjelasan-penjelasan awal vedisme. Misalnya dalam upacara korban: orang yang berkorban bagi dewa-dewi dapat memaksakan keinginannya supaya terkabul. Dari sini muncul pertanyaan: Siapakah yang berkuasa, manusia atau dewa? Di sini terkesan manusialah yang berkuasa atas dewa karena dapat memaksakan keinginannya untuk dikabulkan dewa. Namun manusia tak bisa berbuat apa-apa tanpa upacara korban. Lebih khusus lagi, manusia tak dapat berbuat apa-apa tanpa korban. Jadi, korbanlah (brahma) yang berkuasa.
Pemikiran tentang siapa yang berkuasa lalu dikaitkan dengan rita yang merupakan aturan dan hukum yang mengatur segala sesuatunya. Menurut mereka, dalam alam semesta hanya ada satu kekuasaan yang mengatur segala-galanya. Kekuasaan ini boleh dianggap sebagai pusat alam semesta. Jika sekiranya pusat alam semesta itu harus diberi nama, maka nama yang tepat adalah brahma. Sebab dalam renungan mereka dan dalam perasaan kebanyakan orang Hindu pada masa itu, yang berkuasa – bahkan yang terkuasa – dalam acara pengorbanan adalah korban atau brahma. Dari pemikiran inilah lalu kata brahma yang awalnya berarti korban kemudian merujuk ke pengertian Yang Maha Kuasa. Dengan perkataan lain bisa juga diartikan sebagai yang menguasai segala sesuatunya, pusat dunia, dan bahkan pusat alam semesta (Raja dalam Radhakrishnan (ed.), 1957). Pada perkembangan selanjutnya, istilah yang lebih umum digunakan untuk merujuk Yang Maha Kuasa adalah Brahman agar dapat dibedakan dengan Dewa Brahma dan brahman dalam arti korban. Brahman adalah roh yang paling tinggi, di luar jangkauan manusia, tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Brahman dapat dijumpai di seluruh alam semesta. Dia di atas segalanya. Dia adalah asal dari segala ciptaan (hakikat rahasia, hakikat sukacita, dan sang sejati).
Brahman adalah seluruh dunia yang mengelilingi kita, namun dia adalah dunia yang juga berada di dalam diri kita. Dunia yang ada di dalam diri kita disebut atman (jiwa). Baik Brahman maupun atman adalah satu, meskipun manusia tidak selalu menyadarinya.
Brahman ini menggunakan banyak wujud yang dapat dilihat. Bagi orang Hindu, Allah adalah asal dari segala ilmu pengetahuan dan segala sesuatu yang dapat dikenali melalui tanda-tandaNya. Allah adalah segala kebenaran, Segala Ilmu Pengetahuan, Segala Kegembiraan, Tidak berwujud, Yang Mahakuasa, Yang Adil, Yang Murah Hati, Yang Tidak Diperanakkan, Yang Tidak terbatas, Yang tidak dapat berubah, yang tidak berawal, Yang tidak ada yang menyamai, Yang menanggung segala sesuatu dan Tuhan dari segala sesuatu, yang mahatahu, yang kekal, yang hidup selamanya, yang bebas dari rasa takut, yang abadi, yang kudus, asal alam semesta. Hanya kepadaNyalah kita menyembah.
Di antara potensi-potensi atau daya-daya kekuatan, daya-daya kekuasaan yang terdapat di mana-mana, Brahman mengambil tempat yang penting sekali. Agak sukar untuk mendefinisikan mengenai Brahman. Brahman menyatakan kata, syair-syair, mantra-mantra dari Weda. Brahman menyatakan diri dalam upacara (ritus) dan yang dimiliki oleh mereka yang mengerti Weda dan berhak mengerjakan ritus. Brahman adalah pandita (brahmana) dan seluruh golongan pandita. Mantra-mantra yang diucapkan oleh para pandita pada persembahan-persembahan adalah Brahman, suatu potensi yang memberi berkat, sehingga seorang pujangga itu pula dapat membinasakan daya-daya kekuatan jahat. Para pandita dapat juga mengisi, mempersegar, memperkuat dewa-dewa dengan Brahman. Dewa lainnya menggunakan Brahman untuk membelah dewa jahat. Bagi para dewa pun Brahman menjadi suatu ‘barang ajaib yang tidak dapat dikenal.’ Daya tumbuh yang ajaib dan daya tenaga yang menyebabkan  matahari terbit adalah Brahman. Brahman yang meletakkan  bumi dan membentangkan langit di atasnya, seperti lapisan udara (atmosfer) meluaslah ia mendatar dan meninggi.
Pada satu pihak, Brahman itu dilukiskan sebagai benda, di pihak lain sebagai sesuatu yang rohani atau sebagai suatu pengertian yang abstrak.  Tetapi ia pun menyerupai kepribadian, sebab ia berpikir dan berkata-kata dengan para dewa. Adakalanya Brahman dipersamakan dengan tata-tertib dunia dunia, ‘rta’ (rita), ‘serta’ yakni yang ada kenyataan, yang sejati. Terkadang dipersamakan juga dengan matahari atau angin.
Dalam Upanishad, Brahman merupakan kata kunci yang paling penting. Itulah sebabnya kitab-kitab Upanishad sering juga disebut sebagai Brahmanisme (ajaran mengenai Brahman) atau Brahma-vidya (pengetahuan tentang Brahman) dan uraian tentang ajaran pokok Upanishad disebut juga Brahma Sutras (ulasan tentang Brahman). Brahman dalam sering dikemukakan dalam dua macam bentuk antagonis: yang berbentuk dan yang tidak berbentuk, yang dapat mati dan yang tak dapat mati, berkaitan dengan dunia yang “fenomenal” dan yang “noumenal”. Namun dengan mengutip Chandogya Upanishad, Hume, menyatakan bahwa Brahman yang tak berbentuk, yang imortal, ternyata lebih berarti, lebih penting, sehingga atas dasar ini, yang dianggap sebagai kesatuan tanpa diferesiasi, keragaman dunia inderawi dinyatakan sebagai khayal. Brahman yang mahatinggi ini, yang mengatasi apa yang fenomenal, kesatuan yang murni disebut dalam berbagai kutipan yang kesemuanya dapat dirumuskan dalam ungkapan negatif “bukan ini, bukan itu!” (neti neti; BAU 2.3.6.; 3.9.26;4.2.4).
Dalam Hinduisme, Allah bukan laki-laki atau perempuan, tetapi karena Brahman melingkupi segala mahkluk, Ia bisa berwujud laki-laki, perempuan dan bahkan binatang. Dia dipercaya sebagai Sang Hyang Widhi (pencipta, pemelihara, dan pelebur alam semesta dengan segala isinya). Tuhan adalah sumber awal, dan akhir, serta pertengahan dari segala yang ada.
Di Barat tradisi Semit mengajarkan Tuhan atau Allah sebagai yang esa dan berpribadi. Dalam Upanishad segalanya sangat berlainan, sebab Brahman merupakan istilah yang elusip, tak mudah dipahami. Dia dapat diartikan baik sebagai Tuhan yang berpribadi mau pun Absolut impersonal. Istilah Brahman tak ada padanannya dalam bahasa Barat.

Hubungan Atman dan Brahman
Atman adalah percikan kecil dari Brahman (Paramatman). Atman dalam badan manusia disebut jiwatman, yang menyebabkan manusia itu hidup. Atman dipercaya merupakan bagian dari Tuhan, bagaikan titik embun yang berasal dari air laut yang menguap karena pengaruh suhu tertentu. Atman mempunyai beberapa sifat, yaitu: Achodya (tidak terlukai oleh senjata), Adahya (tidak terbakar oleh api), Akledya (tidak terkeringkan oleh angin), Acesyah (tidak terbasahkan oleh air), Nitya (abadi), Sarwagatah (di mana-mana ada), Sthanu (tidak berpindah-pindah), Acala (tidak bergerak), Sanatama (selalu sama), Awyakta (tidak dilahirkan), Achintya (tidak terpikirkan), Awikara (tidak berubah dan sempurna), dan tidak berkelamin (bukan laki-laki dan perempuan).
Sering dikatakan bahwa ajaran pokok dari kitab-kitab Upanishad adalah persekutuan antara Atman dan Brahman. Tetapi pernyataan yang sederhana semacam ini tanpa penjelasan lebih lanjut malahan dapat membingungkan, sebab Atman dapat pula menunjuk pada Brahman. Jika demikian identitas atau persekutuan Atman dan Brahman tidak menjelaskan apa-apa.
Banyak ahli telah mencoba menjelaskan hubungan antara Atman dan Brahman. Di bawah ini beberapa pandangan yang bisa kita perhatikan:
a)      Atman dan Brahman merupakan dua aspek berbeda dari satu kenyataan yang sama. Atman diterangkan sebagai aspek subyektif dari seluruh kenyataan, yang mengantar seluruh kenyataan menuju kedalaman dirinya, sedang Brahman lebih menunjuk aspek obyektif atau keluasan dirinya.
b)      Atman merupakan inti atau hakekat yang tinggal dalam lubuk kenyataan, sedang Brahman merupakan daya magis yang menyangga seluruh kenyataan ini dari luar. Dengan demikian keduanya merupakan unsur pembentuk yang saling melengkapi dari kenyataan yang satu dan sama
c)      Keduanya juga bisa dianggap saling melengkapi dalam arti bahwa Brahman merupakan kenyataan yang tak terketahui yang memerlukan penjelasan, sementara Atman adalah yang terketahui, lewat mana Brahman memperoleh penjelasannya atau maknanya.
d)     Brahman merupakan prinsip pertama sejauh kita bicara mengenai alam semesta, sedang Atman merupakan jatidiri manusia yang terdalam. Maka Brahman bisa dianggap sebagai prinsip kosmis dari seluruh alam raya, Atman sebagai prinsip psikis.
e)      Atau Brahman merupakan akhir yang telak dari pencarian secara obyektif, sedang Atman merupakan akhir yang telak dari pencarian secara introspektif.

Kebijaksanaan Hinduisme dalam Dharma dan Kehidupan Moral
Kata dharma berasal dari akar kata dhr, yang berarti “memegang, bertahan, memasang, mendukung, membuat kencang”. Prof. Zaehner membandingkannya dengan kata Latin, firmus darimana dibentuk kata forma. Dharma dalam pemahaman ini adalah sesuatu yang memberi bentuk, yang membuatnya tetap dan tidak berubah. Menuruh M. Dhavamony, bersama kata dhaman – dhaman sendiri dari akar kata dha yang berarti “menaruh, menetapkan” – dharma boleh diartikan sebagai sesuatu yang “menetapkan sebagai miliknya”, “yang menguasai atau menjalankan”; bisa dibandingkan dengan kata Yunani thronos yang berarti “kedudukan, pemerintahan”.
Sebetulnya kata dharma sudah digunakan juga baik dalam Veda maupun Brahman, tetapi sangat terbatas. Dalam Rig-Veda, dharma ditunjukkan sebagai aturan berkenaan dengan upacara korban, misalnya cara menyalakan api sesuai dengan kebiasaan lama atau aturan yang harus ditaati agar pemujaan kepada dewa dilakukan dengan benar, sedang dalam kitab-kitab Brahmana dharma praktis menduduki fungsi “kewajiban” berkaitan dengan upacara korban.
Chandogya Upanishad rupanya merumuskan seluruh pengartian dharma dalam ajaran Veda sebagai berikut:
“Ada tiga macam pokok (dharma). Yang pertama adalah korban, pelajaran Veda dan pemberian dana. Yang kedua adalah tapa. Yang ketiga adalah tinggal sebagai murid untuk pengetahuan suci di rumah seorang guru dan berlaku dengan sangat rendah hati di rumahnya. Semuanya ini mendatangkan dunia yang disediakan bagi orang-orang utama (sebagai upah mereka). Dia yang tetap teguh dalam Brahman mencapai imortalitas.”
Memang dalam Upanishad pengertian dharma secara moral belum terlalu nampak. Akan tetapi petunjuk-petunjuk awal sudah bisa dilihat misalnya dalam teks Katha Upanishad:
“Bukan orang yang tak hentinya berbuat kesalahan, bukan pula yang tak kenal damai dan yang tak bisa memusatkan diri, bukan pula orang yang pikirannya dipenuhi dengan kegelisahan, yang dapat meresapkan dia (tuhan), biar pun dia bijak maupun pandai.”
Orang-orang yang tak pernah bersih akan selalu menjadi korban reinkarnasi dan gagal mencapai tujuan akhir:
“Orang yang tak tahu membeda-bedakan, tak punya pikiran, tak pernah bersih, dia tak mencapai keadaan (mulia) itu, kembali ke perputaran kelahiran dan kematian yang tak pernah ada akhirnya ini.”
Di sini Tuhan dipikirkan sebagai yang murni, yang bebas dari kejahatan dan dharma digunakan sebagai ciri dan hakekat dari Tuhan. Sementara dalam fase sebelumnya tuntutan lebih diletakkan pada aturan ritual, untuk memberikan persembahan pada upacara korban, sekarang Upanishad memandang tuntutan religius terletak pada tapa, matiraga, kemurahan dan kelurusan hati, dharma, tidak membuat cedera dan menjalankan kebenaran. Dalam semua sifat ini, manusia mengambil Tuhan sebagai modelnya.
Dengan demikian dharma yang semula berkaitan dengan upacara korban itu selanjutnya berkembang. Dharma bisa diartikan sebagai hukum yang mengatur kelangsungan alam semesta maupun kehidupan manusia. Dalam arti pertama, para dewa pun terkena dharma, sebab mereka termasuk dalam kehidupan kosmis. Tradisi beranggapan bahwa kehidupan para dewa pada hakekatnya berupa permainan, namun mereka tidak sewenang-wenang dalam bermain, sebab dharma merupakan peraturan permainan yang mengikat atau yang harus ditaati. Pada manusia dharma menjadi kewajiban moral yang harus ditaati.

Moksa atau Pembebasan
Menurut Hindu, keselamatan adalah pencapaian oleh pemikiran filosofis pada perkataan bijaksana dan melalui meditasi, kelepasan dan kebebasan dari roda kehidupan (moksa). Hal ini datang ketika individu mendapati jiwanya (atman) yang identik dengan jiwa universal (brahman). Barangsiapa yang ingin mendapat keselamatan atau kelepasan, ia harus menghapuskan segala keinginannya. Caranya dengan mengenal akan dirinya sendiri. Jika orang mengenal akan dirinya sendiri, maka ia akan bebas dari kematian. Kelepasan ini dapat dicapai dengan melepaskan diri dari segala kekuasaan karma dan melpaskan diri dari segala macam perbuatan. 
Dari gambaran ini, nampaklah bahwa yang dicari orang-orang Hindu bukanlah kehidupan abadi, dalam arti kelanjuta atau sekedar perpanjangan hidup duniawi, sebab jiwa sudah dengan sendirinya bersifat abadi, sehingga mau tak mau hidupnya akan selalu diperpanjang dalam bentuk lain. Yang mereka cari justru pemutusan dari perpanjangan waktu yang terus menerus ini, atau pembebasan dari dunia yang mengalir ini, sehingga ia bisa lepas dari reinkarnasi yang berulang-ulang. Itulah yang disebut moksha atau mukti.
Seperti sudah disebut di atas, kehidupan orang-orang pada masa itu sangat dicemaskan menyangkut keselamatannya sesudah kematian. Ajaran perpindahan jiwa dengan demikian mengandaikan bahwa jiwa bersifat kekal, tak dapat mati dan karenanya kematian badan hanya akan memaksa jiwa untuk bebas, kalau ia sudah mencapai moksha atau kembali ke dunia dengan badan lain apabila masih harus memenuhi karmanya.
Dalam kitab Brahmana, sebetulnya ada dinyatakan bahwa upacara korban yang dilakukan seseorang dapat menghapus tindakan keliru dari nenek-moyangnya. Menurut Biardeau, upacara korban dalam masa ini dapat mencapai tiga macam maksud. Dalam hal yang pertama, korban ditempatkan dalam konteks kosmogoni, untuk memenuhi maksud pembaharuan kosmis. Dalam hal yang kedua, korban ditempatkan dalam konteks hubungan sosio-kosmis, untuk menjalin hubungan baik dengan para dewa, nenk-moyang dan roh-roh yang tidak kelihatan. Dalam hal yang ketiga, korban ditempatkan dalam upaya untuk mengutarakan kebutuhan-kebutuhan pribadi.
Dalam arti yang kedua itulah anak lelaki sangat diperlukan karena mempunyai peran untuk melanjutkan upaya pembebasan dari karma. Dari sini nampak adanya pengandaian bahwa jiwa bersifat kekal dan memerlukan pembebasan dan reinkarnasi. Akan tetapi dalam Upanishad, jiwa lebih dipandang dalam individualitasnya daripada dalam ikatannya dengan keluarga yang masih hidup. Dalam pengertian ini, korban menjadi berkurang kepentingannya karena setiap orang bertanggung jawab terhadap jiwanya sendiri dan tak perlu menggantungkan diri kepada anak lelakinya.
Dalam brhadaranyaka-Upanishad, mukti diutarakan sebagai pembebasan empat macam, yang secara ritual diwujudkan oleh hotr, adhvaryu, udgatr, dan brahman yang bertugas. Tetapi pembebasan di sini hanya menyangkut ikatan-ikatan psikosomatis. Selanjutnya dikatakan:
“Ketika semua hasrat yang membungkus hati melepaskan diri (mukti), barulah orang yang dapat mati itu menjadi imortal: ia mencapai Brahman.”
Di sini pembebasan dikatakan sebagai “mencapai Brahman”, hal ini masih akan kita jelaskan lebih lanjut dalam pokok-pokok berikut.


Kamis, 06 September 2012

Kririk Teks Dan Kritik Bentuk Kejadian 29 : 21-25


KEJADIAN 29 : 21-25

 yKiî yTiêv.ai-ta, hb'äh' ‘!b'l'-la, bqoÜ[]y: rm,aYO“w:  WTT Genesis 29:21
                                   `h'yl,(ae ha'Abßa'w> ym'_y" Waßl.m'
                                                                                                            
IBRANI     : u’amar  yaqop  al-Labn ebe  ath iashathyi ki mlau imy wabua ali’e   

 KJV           :  And Jacob said unto Laban, Give me my wife, for my days are fulfilled, that I   may go in unto her.

 NRS           :  Then Jacob said to Laban, "Give me my wife that I may go in to her, for my time is completed."

 TB BIS      :  Sesudah itu Yakub berkata kepada Laban, "Tujuh tahun sudah lewat; izinkanlah saya kawin dengan anak Paman."

 TB LAI     :  Sesudah itu berkatalah Yakub kepada Laban: "Berikanlah kepadaku bakal isteriku itu, sebab jangka waktuku telah genap, supaya aku akan kawin dengan dia."


Kritik Teks :
Dalam ayat 21 tidak terlalu banyak perbedaan dari terjemahan-terjemahan baik KJV, NRS, TB LAI, dengan teks aslinya. Hanya pada TB BIS yang mengatakan “tujuh tahun” dan izinkanlah aku kawin dengan anak paman” yang berbeda dari ketiga terjemahan yang lain yang masing-masing menerjemahkan kata yTiêv.a “iashathyi” ( Ibrani 3fs ) yang artinya “berikan” diterjemahkan oleh KJV “give me” dan sedikit berbeda dalam menterjemahkan kata ha'Abßa'w> “uabua” ( Ibrani = membawa) dan oleh KJV diterjemahkan menjadi “kawin”. Demikian juga dengan NRS, dan TB LAI menerjemahkan kata “iashatyi” sesuai aslinya yakni “berikanlah”. Melihat dari segi kesejajaran maka TB BIS  sepertinya kurang tepat digunakan, dan ayat ini  bisa diterjemahkan sesuai KJV, TB LAI maupun NRS karena lebih sesuai atau dekat dengan teks Ibraninya.

f[;Y:ïw: ~AqßM'h; yveîn>a;-lK'-ta, !b"±l' @soða/Y<w:  WTT Genesis 29:22
    `hT,(v.mi

IBRANI     :  u’iasph Laban ath-kal-an’shy emaqum uaios mistheh .
 KJV           :  And Laban gathered together all the men of the place, and made a feast.

 NRS           :  So Laban gathered together all the people of the place, and made a feast.

 TB BIS      :  Lalu Laban mengadakan pesta perkawinan dan mengundang semua orang di kota itu.

 TB LAI       : Lalu Laban mengundang semua orang di tempat itu, dan mengadakan perjamuan.

Kritik Teks :
Dari beberapa terjemahan dari ayat 22 ini juga tidak terlalu banyak perbedaan dari teks aslinya hanya kata yveîn>a;-lKkal an’shy” ( Ibrani = semua orang  3mp) yang diterjemahkan agak berbeda oleh KJV menjadi “all the men” ( semua orang laki-laki ) terjemahan ini menjadi mempersempit pengertian terhadap orang-orang yang diundang ke perjamuan yang diadakan oleh Laban menjadi terbatas hanya orang laki-laki saja. Sedangkan terjemahan yang lain seperti NRS, TB LAI, dan TB BIS menerjemahkan kata tersebut sesuai dengan teks aslinya. Jadi terjemahan teks itu bisa diterjemahkan seperti dalam NRS maupun TB LAI. Sedangkan  TB BIS menambahkan kata “pesta perkawinan” yang juga tidak terdapat dala teks asli yang hanya menggunakan kata hT,(v.mi  “mistheh” ( Ibrani = perjamuan ).

Ht'Þao abeîY"w: ATêbi ha'äle-ta, ‘xQ;YIw: br<[,êb' yhiäy>w:  WTT Genesis 29:23
                           `h'yl,(ae aboßY"w: wyl'_ae

IBRANI     : u’ayah be erep uiyqah ath-Leah bethu uiba ath ali’w  wa’yabii elei’yah
              
 KJV           :  And it came to pass in the evening, that he took Leah his daughter, and brought her to him; and he went in unto her.

 NRS           :  But in the evening he took his daughter Leah and brought her to Jacob; and he went in to her.

 TB BIS      : Tetapi pada malam itu, bukan Rahel, melainkan Lea yang diantarkan Laban kepada Yakub, dan Yakub bersetubuh dengan dia.

 TB LAI     : Tetapi pada waktu malam diambilnyalah Lea, anaknya, lalu dibawanya kepada Yakub. Maka Yakubpun menghampiri dia.


Kritik Teks :

Ayat 23 ini dalam terjemahan KJV, NRS, TB BIS dan TB LAI cukup mendekati aslinya hanya dalam menerjemahkan kata  aboßY"w: “u’yabii” ( Ibrani : mendekati ; hophal ) yang diterjemahkan menjadi bersetubuh oleh TB BIS dan terjemahan yang lain masih mendekati karena menggunakan kata “menghampiri” TB BIS menerjemahkan ayat itu mengarahkan pada hubungan badan antara Yakub dan Lea, sedangkan ketiga  terjemahan lain diatas kata itu diperhalus menjadi menghampiri dan tetap sesuai dengan aslinya. Jadi ayat ini bisa diterjemahkan menurut KJV NRS dan TB LAI.

ATßbi ha'îlel. At+x'p.vi hP'Þl.zI-ta, Hl'ê ‘!b'l' !TEÜYIw:  WTT Genesis 29:24
  `hx'(p.vi


IBRANI     : u’yithan Laban eth Zilfeh shipchah’u Le’ah bath’u shipchah.

 KJV           :  And Laban gave unto his daughter Leah Zilpah his maid for an handmaid.

 NRS           :  (Laban gave his maid Zilpah to his daughter Leah to be her maid.)

TB BIS       :  (Laban memberikan hambanya perempuan yang bernama Zilpa kepada Lea, untuk menjadi hambanya.)

 TB LAI     :  Lagipula Laban memberikan Zilpa, budaknya perempuan, kepada Lea, anaknya itu, menjadi budaknya.


Kritik Teks :

Dari semua terjemahan tetap mendekati aslinya ( teks Ibrani ) dalam ayat 24 ini. Ini merupakan sebuah tradisi yang ada pada zaman Israel, bahwa ketika seorang anak perempuan mereka akan menikah maka diberikanlah seorang hamba perempuan baginya untuk membantu dia, ( bdk Kej 16 : 1-16 ). Ayat ini bisa menggunakan terjemahan baik KJV, NRS, TB LAI maupun TB BIS karena tidak ada perbedaan yang mencolok dari terjemahan-terjemahan itu dengan teks Ibraninya.


!b'ªl'-la, rm,aYOæw: ha'_le awhiÞ-hNEhiw> rq,Boêb; yhiäy>w:  WTT Genesis 29:25
  `ynIt")yMirI hM'l'Þw> %M'ê[i yTid>b;ä[' ‘lxer"b. al{Üh] yLiê t'yfiä[' ‘taZO-hm;


Teks Ibrani :  ua’iya boqer u’iyne  wa’iyamar el-Laban me-zoth asyoitakh liy he’lo
                        be’Rakhel abhadatiy imakh ulamha rimiytany.

 KJV           :  And it came to pass, that in the morning, behold, it was Leah: and he said to Laban, What is this thou hast done unto me? did not I serve with thee for Rachel? wherefore then hast thou beguiled me?

 NRS           :  When morning came, it was Leah! And Jacob said to Laban, "What is this you have done to me? Did I not serve with you for Rachel? Why then have you deceived me?"

 TB BIS      :  Baru keesokan harinya Yakub mengetahui bahwa Lea yang dikawininya. Lalu pergilah Yakub kepada Laban dan berkata, "Mengapa Paman perlakukan saya begini? Bukankah saya bekerja untuk mendapat Rahel? Mengapa Paman menipu saya?"

 TB LAI     :  Tetapi pada waktu pagi tampaklah bahwa itu Lea! Lalu berkatalah Yakub kepada Laban: "Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?"



Kritik Teks :

 Dalam ayat yang ke 25 ini, perbedaan yang jauh hanya terdapat dalam terjemahan TB BIS “ mengapa paman memperlakukan saya begini”. Sedangkan terjemahan yang lain mendekati teks aslinya yaitu  t'yfiä[' ‘taZO-hm; !b'ªl'-la, rm,aYOæw: “h’iuw wa’yamar el-Laban me-zoth asyoitakh ( niphal) ” ( Ibrani = berbicaralah ia kepada Laban engkau telah menipu aku ). Dalam KJV dan NRS masing-masing menterjemahkan kata t'yfiä[asyioitakh” ( menipu ) dengan kata beguiled dan deceived ( ketidak jujuran). TB LAI juga juga hampir persis dengan NRS maupun KJV. Sehingga menurut saya ayat ini bisa diterjemahkan sesuai dengan KJV, NRS maupun TB LAI . Sedangkan  TB BIS kurang tepat digunakan karena jauh dari teks aslinya dan juga dengan terjemahan yang lain.



Kritik Bentuk :
Teks diatas merupakan kisah yang menceritakan bagaimana Yakub mengawali perkawinannya dengan kedua anak perempuan Laban. Ini merupakan lanjutan dari cerita Kejadian 29 : 1-14. Yakub disuruh pergi kepada Laban, pamannya di Haran. Di sana ia bertindak atas perintah  ayahnya (Ishak ) untuk mengatur pernikahan dengan Rahel. Sebagai gantinya memberikan maskawin kepada Laban, ia bekerja selama tujuh tahun. Namun dalam tradisi Perjanjian Lama, tidak biasa orang mengizinkan anak perempuan yang lebih muda kawin dahulu, karena itu Laban menipu Yakub sehingga menikah dengan Lea, kakak perempuan Rahel. Setelah itu Yakub menerima tawaran Laban untuk bekerja tujuh tahun lagi untuk memperoleh Rahel. Teks itu juga bisa berisi kemungkinan bahwa Laban ingin menjadikan Yakub sebagai anak angkat yang akan mewarisi harta kekayaannya mengingat tradisi di daerah itu, orang yang tidak mempunyai anak laki-laki sering kali mengadopsi seorang ahli waris laki-laki, dengan memberikan anak perempuannya untuk menjadi istrinya. Anak laki-laki yang diadopsi itu diharuskan bekerja dalam rumah tangga tersebut. Apabila di kemudian hari seorang anak laki-laki yang sah lahir, anak yang diadopsi itu hilang hak warisannya karena menjadi hak anak yang sah. Mungkin Laban berniat untuk mengadopsi Yakub; tetapi kemudian Laban dikaruniai banyak anak laki-laki Kej. 31:1. Mungkin anak-anak laki-laki Laban menjadi iri terhadap Yakub karena mereka takut Yakub akan menyatakan haknya atas warisan itu. Ayat 22 Tentang perjamuan oleh Laban, perjamuan merupakan bagian yang penting dari upacara pernikahan. Pada umumnya perjamuan ini diselenggarakan oleh keluarga mempelai perempuan Kej. 29 : 22, tetapi keluarga mempelai laki-laki boleh juga mengadakan perjamuan, bdk. Hak. 14:10.
Dalam ayat 24 ada disinggung tentang Laban yang memberikan Zilfa hambanya  kepada Lea untuk menjadi hamba atau pembantu Lea. Ini memang sebuah tradisi yang ada dalam Perjanjian Lama bahwa seorang anak perempuan pada masa itu akan diberikan seorang budak atau hamba perempuan oleh ayahnya apabila ia akan menikah, hal itu dapat kita lihat pula dalam Kejadian 16 : 1-15, peran budak perempuan dalam Kitab Kejadian  tersebut juga terlihat sebagai sesuatu yang luar biasa, karena ketika majikannya tidak mempunyai keturunan maka dari hamba perempuan tersebut ia bisa mendapatkannya dengan memberikan budak itu kepada suaminya dan melahirkan anak dipangkuannya, sehingga kelak anak itu akan menjadi ahli waris dan dianggap sebagai anak dari majikannya itu. Ini merupakan sebuah tradisi dalam PL yang juga sesuai dalam catatan sejarah kuno, misalnya : “Jika seorang laki-laki mengawani seorang perempuan dan perempuan tersebut memberikan budak perempuannya untuk suaminya, dan budak tersebut melahirkan seorang anak, dan jika dikemudian hari budak perempuan tersebut menuntut persamaan kedudukan dengan majikan perempuannya, maka majikan perempuannya tidak boleh menjualnya, melainkan memberikan sebuah tanda kepadanya dan memperlakukannya secara istimewa diantara budak-budak perempuan lainnya” ( Teks Hammurabi fasal 146).[1]
            Dalam ayat 25, disitu bercerita tentang ekspresi Yakub yang tertipu oleh Laban, bagaimana kejadian ini bisa terjadi rupanya pada masa itu di daerah Haran dan sekitarnya seorang perempuan itu menggunakan telekung ( kerudung ) yang menutupi seluruh tubuhnya, apabila ada seorang laki-laki yang melamarnya laki-laki itu baru boleh melihat wajahnya setelah pernikahan dilangsungkan, itulah yang menyebabkan Yakub bisa tertipu oleh Laban karena sebelum telekungnya dibuka ia tidak mengenal apakah itu Lea atau Rahel. Dan tradisi seperti itu masih ada sampai sekarang dibeberapa daerah di Palestina.
            Melihat dari beberapa aspek yang ada, seperti latar belakang teks, dan ciri-cirinya dari tinjauan sosial budaya maupun tradisi yang ada dalam cerita tersebut, kita dapat melihat bahwa teks ini kemungkinan besar berasal dari sumber atau tradisi Elohis ( 21-23 ), Priester ( 24)  Yahwis ( 25) yang umumnya dalam cerita teks diatas menceritakan secara keseluruhan tentang kisah tentang  pernikahan Yakub dengan anak-anak Laban keluarga Ishak yang berada di Haran.


Catatan :
1.      Warna merah adalah teks asli yang diterjemahkan berbeda oleh terjemahan-termahan.
2.      Warna kuning adalah terjemahan yang sangat berbeda dari teks asli ( Ibrani ) maupun terjemahan yang lainnya.
                                     













Kritik Teks & Kritik Bentuk Kejadian 29: 21-25
                    Untuk Memenuhi Tugas 
     Mata  Kuliah:
                                                                        HPL 1
Dosen  Pengampu:
      Pdt. Bimbing Kalvari M.Th
 








Oleh:
Hendri

NIM :
10.15.52



    SEKOLAH TINGGI TEOLOGI
GEREJA KALIMANTAN EVANGELIS
 BANJARMASIN,  APRIL 2012