Senin, 05 November 2012

Khotbah Penghiburan ( Hendry )



Nama : Hendri
Tugas : Khotbah Penghiburan


YOHANES 11 : 33-44
Sidang Perkabungan yang dikasihi Tuhan. Saya teringat sebuah penggalan syair lagu yang berkata “Jangan biarkan damai ini pergi” kalau tidak salah lagu ini dilantunkan oleh Sheila Marcia. Ini paling tidak menyiratkan sebuah perasaan bahwa tidak seorangpun manusia yang ingin kesenangan, kebahagiaan dan kedamaian meninggalkan dia. Dengan kata lain tak seorangpun ada manusia yang ingin hidupnya mengalami sebuah dukacita ataupun penderitaan.
Tetapi realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari bisa berkata lain, kita sering menghadapi berbagai bentuk kesulitan, tantangan, dukacita  dan persoalan hidup lainnya.
Bapak-ibu sidang perkabungan yang dikasihi Tuhan. Hal serupa tentu juga dirasakan oleh Maria dan semua kerabat yang ada pada saat itu dalam nast kita pada hari ini. Mereka selalu ingin bersama-sama dengan saudara mereka Lazarus, tak pernah terbersit dalam benak mereka bahwa Lazarus akan meninggalkan mereka dalam rupa kematian, dan ketika itu terjadi betapa mereka mengalami luka batin dan kesedihan yang teramat sangat dalam pada diri mereka, itu terlihat ketika Maria dan orang-orang yang bersama mereka pada waktu itu menangisi Lazarus. Sebenarnya tangisan bukan sekedar suatu ekspresi perasaan hati seseorang. Tangisan juga merupakan media yang mengkomunikasikan maksud hati seseorang yang paling dalam dan pribadi. Seseorang mengeluarkan air-mata atau tangisan  umumya karena dia didorong untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak mampu dikomunikasikan melalui kata-kata yang diucapkan secara lisan ataupun tulisan. Saat Tuhan Yesus menyaksikan Maria dan orang-orang yang ada disitu bersedih hati karena kematian Lazarus, Injil Yohanes menunjukkan sikap Tuhan Yesus yang sangat terharu. Dalam keharuan Yesus tersebut, secara jelas Yohanes menyatakan: “Maka menangislah Yesus”. Tangisan Tuhan Yesus tersebut lahir dari perasaanNya yang paling dalam saat Dia menyaksikan kesedihan dan dukacita yang dialami oleh Maria dan para kerabat Lazarus. Itu sebabnya penilaian orang banyak terhadap perasaan haru dan tangisan Yesus dalam Yoh. 10:36, adalah: “Lihatlah, betapa kasihNya kepadanya”.
Orang banyak yang melihat air mata atau tangisan Yesus tidak menilaiNya sebagai tangisan yang  munafik,  atau sekedar akting. Tetapi orang banyak menilai air-mata Yesus sebagai tangisan cinta-kasih-Nya kepada Lzarus, dan keharuan-Nya melihat kondisi yang terjadi terhadap Maria dan seluruh kerabat yang ditinggalkan oleh Lazarus.
Sidang Perkabungan yang dikasihi Tuhan. Sedih, Perih dan pilu seperti yang Maria dan seluruh kerabat yang bersama-sama dengan mereka pada saat itu, juga kita rasakan pada hari ini. Ketika kita harus menyaksikan orang tua terkasih kita, suami, saudara, anak, sahabat, rekan kita yang terkasih ini juga di panggil oleh Tuhan. Ini tentunya membuat kita memiliki berbagai macam perasaan. Kita bersedih, terluka, dan menangis, kita juga seolah-olah bisa merasakan dunia tidak adil kepada kita. Tetapi ada juga diantara kita yang merasa sadar bahwa peristiwa ini menjadi kehendak yang Mahakuasa.
Dalam berbagai pergumulan dan kesedihan kita tersebut, Firman Tuhan pada hari ini mau mengatakan dan mengajarkan kepada kita bahwa :
Ø  Kita tidak tidak menjalani penderitaan ( menangis ) seorang diri dalam kedukaan kita pada hari ini, tetapi menangis bersama dengan Kristus. Artinya ialah, Kristus hadir dan merasakan setiap kedukaan, pergumulan yang ada dalam diri kita. Sehingga tak perlu kuatir karena rencana Allah yang amat baik bisa dinyatakan melalui peristiwa kedukaan.
Ø  Melalui Firman Tuhan kali ini kita mengenal bahwa Kristus adalah sahabat sejati kita yang merasakan kedalaman hati kita agar kita dimampukan untuk mengenal jati-diri Allah yang tidak semata-mata memanggil saudara kita terkasih ini untuk menjadi kehilangan dan duka saja kepada kita, tetapi juga mau berkarya untuk semakin mendekatkan kita kepada-Nya.
Ø  Kita juga dikuatkan bahwa, setiap tetesan air mata kita, setiap ungkapan kesedihan yang ada dikedalaman hati kita, itu juga tidak luput dari perhatian Tuhan kita.
Ø  Kehilangan orang yang terkasih mungkin saja adalah sebuah awal dari kebangkitan iman dan pengharapan kita kepada Tuhan. Kita menjadi tahu, bahwa Tuhan juga berkenan memberikan kehidupan bagi orang yang sudah mati sekalipun seperti kepada Lazarus, apalagi bagi kita yang sekarang masih punya kesempatan untuk berkarya.
Kepada sidang perkabungan semuanya, terlebih kepada keluarga yang mengalami peristiwa dukacita ini, marilah kita bersama-sama mengiklaskan saudara kita ini, karena Tuhan punya kuasa untuk memberikan kita pengharapan setiap waktu. Melalui peristiwa kedukaan yang saat ini kita alami bersama, kita maknai itu sebagai salah satu tanda bahwa cinta kasih kita dan sesama bisa terputus, baik oleh waktu, oleh sebab-sebab lain dan oleh sesuatu yang tidak terhindarkan yaitu pemanggilan Allah dalam bentuk kematian jasmani kita. Jika cinta kasih dunia ini bisa renggang, bisa terpisah, tetapi yakin dan percayalah bahwa kasih Tuhan tetap ada sampai selama-lamanya pada kita.
Amin .


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar