Kamis, 06 September 2012

Lima Prinsip Misi menurut Perjanjian Lama



Misisiologi
1.      Lima prinsip teologi misi dalam Perjanjian Lama ialah :

v  Universalisme
Kitab Kejadian 12 menunjukan panggilan Allah atas Abraham untuk meninggalkan Ur-Kasdim, untuk pergi meninggalkan sanak keluarga dan familinya. Abraham dipanggil dan dijanjikan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dibumi. Pemilihan Allah atas Abraham dan keturunannya ( umat Israel ), menandakan bahwa Allah ingin agar seluruh bumi diselamatkan dengan hidup sebagaimana contoh yang diperagakan oleh Abraham dan keturunannya sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan kepada mereka. Jadi melalui hidup Abraham dan bangsa Israel Allah ingin agar bangsa-bangsa diselamatkan dengan menjadikan Israel sebagai contoh. Pemilihan atas Israel adalah jalan yang ditempuh Allah untuk mencapai tujuan-Nya, yaitu pengakuan nama-Nya oleh sekalian bangsa-bangsa.

v  Eskhatologia
Yesaya 66 mengungungkapkan aspek eskhatologis, bahwa bangsa-bangsa suatu masa akan berduyun-duyun untuk datang ke Sion. Jadi didalam pengharapan itu ada banyak hal yang terlibat, yakni janji dan seruan, indikatif dan imperatif ( perintah ). Jadi ada pengharapan bagi bangsa lain tentang keselamatan dengan menjadikan Israel sebagai contoh.

v  Mesianis
Pengharapan Israel menurut Arie De Kuiper dalam buku Missiologia tentang Mesias ini, bahwa selalu dikaitkan dengan Hamba yang menderita ( Yesaya 40-55 ).[1] Masa depan untuk kembali kepada Allah adalah melalui sengsara, dalam hal ini kesengsaraan akan diwakili oleh umat Allah yang patuh, dan nantinya akan diwakili oleh seorang hamba Allah yang patuh yakni Mesias. Jadi pengorbanan mesianis itu diderita sebagai ganti orang Israel, dan kemudian Israel menggantikan bangsa-bangsa. Jadi tugas utama dari hamba itu ialah menderita untuk meneguhkan pengharapan Israel tentang keselamatan. Jadi ada masa depan yang baru bagi Israel dan bangsa-bangsa lain. Israel menjadi contoh untuk bangsa-bangsa lain.

v  Misi Penciptaan
 Ketika awalnya Allah menjadikan semuanya dengan baik dan manusia amat baik untuk mengemban tugas sebagai pemelihara dari semua karya Allah, yang kemudian “dirusak” oleh manusia itu sendiri dengan berbuat dosa. Dalam hal ini Israel dipanggil untuk mengharapkan dan memperjuangkan suatu kerajaan damai bagi seluruh dunia. Dengan demikian pengharapan lahirnya langit yang baru dan bumi yang baru yang merupakan anugerah kepada seluruh ciptaan yang percaya kepada Allah Israel.

v  Misi Rekonsiliasi
Dalam hal ini digambarkan dalam perjanjian Allah dengan Nuh ( Kej 8:21 - 9:1 ), ini merupakan pembaruan perjanjian antara Allah dengan manusia ketika Allah mengatakan bahwa Ia tidak akan memusnahkan manusia karena kesalahan yang ditimbulkan hatinya. Dalam Kej 9 : 1, Nuh yang menjadi nenek moyang umat manusia mendapatkan berkat dan pendamaian dari Allah atas inisiatif Allah sendiri, sehingga manusia bisa diterima kembali kedalam hubungan dengan Allah.

2.      Misi adalah : Tindakan Allah  untuk mentransformasikan dunia ciptaan-Nya termasuk manusia yang sudah jatuh kedalam dunia kegelapan ( dosa ), misi identik dengan perutusan. Misi dalam Alkitab menunjukan bahwa mulai dari PL sampai kepada zaman PB perutusan tersebut berlangsung untuk mewujudkan motif-motof misi yang sebenarnya yakni : motif pertobatan ( Yes 55: 7 ), bertujuan untuk mengembalikan manusia ke pemerintahan Allah secara rohani yang tidak individualistis sehingga menjadi keseluruhan jiwa yang diselamatkan . Motif ( eskhatologis Yes 55-65 ), menjadikan orang-orang berpengharapan akan pemerintahan Allah sebagai suatu realitas masa depan. Motif filantropis ( Yer 22 : 3,4) yang bertujuan menantang gereja untuk mengusahakan keadilan dunia, menyamakan dengan pemerintahan Allah dengan suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera.

3.      Paradigm-paradigma Misi Menurut :
a.      Matius :
·         Pemuridan, ( Mat 28 : 19 ).
·         Membabtiskan,
·         Mengajarkan, menjadikan murid dengan dibabtiskan dalam nama Yesus dalam versi Matius harus seiring dengan mengajarkan murid tersebut untuk melakukan, Matius 28 : 20 “Ajarlah mereka melakukan sesuatu yang Ku perintahkan kepadamu.
b.      Lukas :
·         Solidaritas kepada kaum miskin ( keadilan )
·         Kesaksian iman kepada seluruh bumi ( kamu adalah saksi dari semuanya ini, Lukas 24 : 48 )
·         Pertobatan, pengampunan ( tiada lagi pembalasan) dan keselamatan. Luk 24 : 48.
c.       Paulus :
·         Gereja sebagai Paguyuban Baru, mengatasi agar tidak ada lagi perpecahan dan pemisahan.
·         Misi kepada orang Yahudi.
·         Misi dalam konteks kemenangan Allah yang akan segera tiba.
4.      Maksud dari Misi :
·         Penciptaan ialah, Allah memiliki rencana untuk segenap ciptaan, dengan demikian manusia juga termasuk didalamnya, termasuk dalam rencana penyelamatan yang oleh inisiatif Allah sendiri, yang menyebabkan Ia berjanji akan memperbaharui ciptaan dengan meberikan langit yang baru dan bumi yang baru, yang oleh umat Allah diperjuangkan dalam  sebuah pengharapan dengan percaya kepada-Nya.
·         Rekonsiliasi : Ini merupakan sebuah misi untuk mendamaikan atau mengembalikan relasi yang telah dirusak oleh manusia dengan Allah. Dalam hal ini Allah sendirilah sebagai dasar rekonsiliasi, yang mendamaikan diri-Nya dengan manusia, dan mendamaikan manusia dengan sesamanya, dan juga dengan ciptaan yang lain, seghingga akhirnya “Perdamaian taman Eden dan kerukunan alam semesta dan keadilan untuk mereka yang tertindas akan diadakan kembali (bdk. Yes 11:1-9 ): "Serigala akan tinggal bersama domba, dan mancan tutul akan berbaring di samping kambing" (Yes 11:6).

5.      4 Tantangan  misi abad ini yang sesuai dengan konteks Kalimantan ialah  :
v  Pluralisme, yang sangat cepat berkembang menjadikan misi terbatas, karena upaya menjalankan misi Kristen terbentur dengan agama-agama lain dan juga masyarakat yang memahami kebebasan untuk beragama, dan menganut kepercayaan, ini sebuah tantangan bagi misi di Kalimantan yang tentunya pasti menemukan kemajemukan kultur masyarakatnya.
v  Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, pada dasarnya ini sangat positif dan sangat membantu. Tetapi jika pelaksanaan misi dibiasakan menggunakan media-media yang modern akan menyebabkan ketergantungan kepada teknologi tersebut. Akan menjadi masalah ketika pelayanan dilaksanakan di daerah pedalaman.
v  Melaksanakan misi di Kalimantan akan berjumpa dengan keaslian cultural masyarakatnya. Tidak sepenuhnya mereka bisa menerima gaya “Barat” yang umumnya dipakai gereja. Oleh sebab itu, kadang-kadang kita ingin mempribumikan ajaran agar menyatu dengan cultural, tetapi malah akan menjadi masalah karena akan timbulnya singkretisme apabila kita kurang dalam hal sosialisasinya.
v  Gereja biasanya hanya cukup dengan membaptiskan saja, dan menjadikan orang lain Kristen, kemudian “dibiarkan” tanpa ada pembinaan yang disebabkan kurangnya tenaga pelayanan.


Sumber Bacaan :
Ø  Kuiper, de Arie. (2004) MISSIOLOGIA. Jakarta. BPK Gunung Mulia.
Ø  Stott, John R.W. ( 2007 ) Misi Menurut Persfektif Alkitab. Jakarta. Yayasan Komunikasi Bina Kasih.   
Ø  Bosch J, David Transformasi Misi Kristen, Jakarta. BPK Gunung Mulia 1997
Ø  Alkitab



[1] Arie De Kuiper, Missiologia, hal 24

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar