Kamis, 06 September 2012

PAK BAGI REMAJA TUMBANG APAT


PELAYANAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BAGI REMAJA
Pengantar
Gereja adalah persekutuan belajar. Dia mengajar seluruh anggota gereja melalui banyak cara. Seluruh kegiatan gereja itu adalah proses pengajaran. Gereja yang bersekutu adalah sekaligus pengajaran terhadap jemaat. Gereja yang bersaksi adalah juga gereja yang mengajar. Gereja yang berbuat adalah juga gereja yang mengajar semua jemaat dengan seksama. Ini adalah untuk pengajaran yang bersifat umum. Ada pengagajaran yang bersifat khusus, yaitu pengajaran yang bersifat kategorial. Antara lain pengajaran untuk remaja, pengajaran untuk remaja ini merupakan salah satu tugas penting yang tidak bisa dipisahkan apalagi dihindari oleh gereja, mengingat bahwa gereja memerlukan suatu generasi yang terus-menerus ada untuk mempertahankan Kerajaan Allah didunia ini. Diatas adalah gambaran umum mengapa pelayanan terhadap remaja itu perlu. Berikut merupakan adalah alasan-alasan yang dengan rinci penulis ungkapkan.
Signifikansi Pelayanan Pendidikan Agama Kristen Untuk Remaja
a.      Mengapa Perlu Mengajar Remaja ?
Amsal 22 : 6 “ Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu”.
Gereja adalah persekutuan orang percaya pada Yesus Kristus. Orang yang ada dalam persekutuan  itu adalah dapat dipilih menjadi terdiri dari berbagai kelompok umur, salah satu dari padanya adalah remaja. Kelompok ini merupakan kelompok yang khas yaitu berada didalam persimpangan jalan, yaitu antara sifat yang tidak mau lagi dikategorikan sebagai anak-anak kerena merasa sudah besar dan tidak lagi anak-anak, tetapi juga tidak dapat di golongkan juga kedalam kelompok dewasa mengingat ada sifat-sifat tertentu dari remaja itu yang  membuat kelompok ini juga tidak terlalu pas ikut pada persekutuan orang dewasa[1]. Usia remaja umumnya ialah kisaran usia dari 11-18 Tahun. Di usia tersebut seorang remaja sedang mengalami periode Pubertas, yang berupa perubahan-perubahan fisik dan psikis seperti halnya suatu pelepasan diri dari dari iakatan emosional dengan orang tua dan rencana pembentukan hidup dengan sistem dan nilai yang menurut mereka benar.[2]
Dengan demikian remaja mau memilih bagaimana yang baik untuk dirinya walaupun sebenarnya dia masih membutuhkan pengarahan dari orang tua. Dengan pemilihan jalan itu bagi remaja berkumpul dengan kelimpok umur yang sama akan membuat mereka mnenemukan sebuah sensasi baru, jika ada motif-motif tertentu dalam suatu perkumpulan mereka akan ramai-ramai untuk mengikutinya. Dengan demikian mereka kadang-kadang mau melepaskan diri dari dan tidak mau menuruti aturan-aturan karena dianggap mengekang kebebasan mereka.[3] Demikian pula yang mereka fikirkan dengan kehidupan religius mereka, mereka merasa aturan dalam agama itu sangat mengekang dan mereka sangsikan kebenarannya.
Sebab itu, ada dari antara mereka yang tidak ke gereja, walaupun masih banyak yang ikut dalam persekutuan di gereja. Ada juga yang membiarkan begitu saja, artinya biarlah remaja itu memilih sendiri, mau ikut ikut persekutuan atau tidak terserah dia. Asalkan gereja sudah menyediakan sarana untuk mereka ikut dalam persekutuan. Sikap demikian bisa saja datang dari siapapun, karena memang menghadapi remaja adalah menghadapi yang punya banyak persoalan. Apapun persoalan mereka dan betapa sulitpun mereka dihadapi, itu adalah karena memang merupakan anugerah pada remaja, karena dia berada dalam situasi yang sulit dan sarat persoalan. Bila dapat didampingi dalam suasana yang sulit itu justru kita akan mengharapkan generasi orang dewasa yang baik nantinya. Hal yang mau dikatakan adalah bhagaian dari persekutuan dengan segala keunikannya. Kita berupaya membuka diri pada keunikan tersebut.
b.      Karakteristik Remaja
Umumnya remaja memiliki karakteristik yang unik. Karakter tersebut terjadi karena pada usia tersebut remaja memiliki sikap-sikap mental yang berubah-ubah. Dalam usia remaja itu mereka memiliki ciri-ciri umum yang bisa berupa pergolakan batin yang antara lain sebagai berikut :
§  Kegelisahan, pada usia remaja remaja biasanya memiliki banyak hal yang diinginkan. Pada umumnya, keinginan untuk melakukan sesuatu sangat besar, tetapi keinginan itu terbentur juga dengan perasaan bahwa ia juga merasa diri belum mampu melakukan berbagai hal. Itu menyebabkan seorang remaja bisa dikuasai perasaan gelisah akibat keinginan yang tidak tersalurkan.
§  Selalu ingin mencoba, sikap ini terlihat pada remaja. Mereka suka mencoba hal-hal yang baru, misalnya seorang remaja puteri bersolek dengan mode dan merek kosmetik yang terbaru. Demikian pula remaja putera yang mencoba merokok secara sembunyi-sembunyi. Tindakan tersebut seolah-olah ingin menunjukkan bvahwa apa yang bisa orang dewasa lakukan juga bisa dilakukan oleh mereka.[4]
§  Aktivitas berkelompok. Usia remaja adalah usia berkawan, remaja tidak mau terkurung dalam kesendirian. Remaja senang berkelompok walau hanya sekedar untuk bercanda dan bersenda gurau. Keinginan berkelompok adalah cirri umum dari remaja. Kelompok itu sendiri bisa terbentuk dengan normal, bisa juga terbentuk dari sebuah kesamaan rasa tidak senang dari beberapa remaja, sehingga mereka membentuk kelompok untuk sama-sama keluar dari ketidaksenangan tersebut.
Dari beberapa karakter tersebut, dapat dibayangkan bagaimana pergolakan yang dihadapi pada usia remaja. Semua itu perlu mendapat penanganan atau pendampingan dan pembimbingan khusus agar mereka bertumbuhnya sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua, keluarga, lingkungan dan ajaran agama. Problem remaja diatas merupakan problem remaja secara umum, dan itu tentunya juga dialami oleh remaja-remaja gereja. Oleh sebab itulah maka sangatlah vital peran dari guru-guru agama disekolah, Pembina SPR di gereja dan kita semua sebagai jemaat utnuk mendampingi remaja-remaja kita dalam proses pertumbuhan mereka kearah dewasa, dan kearah pembentukan jati diri yang religius. Dengan demikian maka sangatlah penting pendidikan yang tertata, terarah, dan terorganisir dengan baik terkait pendidikan untuk remaja Kristen, agar mereka bisa menjadi warga masyarakat dan penerus gereja yang menjadi sumber rekonsiliasi bagi lingkungannya kelak.
Dengan melihat pentingnya pendidikan agama Kristen bagi remaja tersebut, maka penulis melakukan survey terhadap pelayanam SPR di sebuah jemaat yaitu Jemaat GKE Tumbang Apat. Dan berikut adalah hasil dari survey tersebut.
A.    PELAYANAN SPR DI JEMAAT GKE DESA TUMBANG APAT
Pengantar
Desa Tumbang Apat berada di wilayah Kecamatan Sungai Babuat, Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Didesa ini telah terbentuk jemaat GKE.
Jemaat GKE Tumbang Apat adalah salah satu bagian dari jemaat yang dilayani oleh resort GKE Permata Intan. Kendatipun jemaat ini tergolong baru dan agak terpencil tetapi jemaatnya sudah cukup banyak, demikian pula dari segi aktivitas pelayanan didalamnya, pelayanan terhadap SHM dan SPR juga sudah mulai ada. Dalam tulisan ini penulis ingin mengangkat tentang pelayanan terhadap SPR jemaat tersebut.
Dalam rangka peningkatan pelayanan gereja terhadap para remaja di seluruh daerah pelayanan GKE maka melalui tulisan ini penulis ingin mengemukakan beberapa kondisi yang terkait dari situasi pelayanan, baik dari segi signifikansinya, kualifikasi guru, yang dalam hal ini menyangkut kualitas dan metode yang diterapkan oleh guru (Pelayan PAK) dan karakteristik yang ada pada murid yang diajarkan. Tulisan ini penulis angkat berdasarkan panduan pertanyaan yang telah disediakan bagi penulis dan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat membantu penulis dalam rangka mengetahui dan mendapatkan informasi konkreet tentang situasi pelayanan yang ada di jemaat GKE Tumbang Apat tersebut.

B.     SITUASI PELAYANAN TERHADAP SPR JEMAAT TUMBANG APAT
Melalui sebuah survey yang penulis lakukan dengan cara berbincang-bincang dengan guru (Pembina) SPR setempat penulis mengetahui bahwa sebenarnya keadaan pelayanan SPR ditempat itu cukup baik dan berkembang. Menurut data yang diperoleh, secara keseluruhan jemaat Tumbang Apat terdiri dari 49 Kepala Keluarga yang didalamnya terdapat sekitar :
·         109 orang jemaat dewasa
·         19 orang anak SHM
·         16 orang anggota SPR
Dalam tulisan ini penulis akan memfokuskan uraian mengenai situasi dan proses belajar mengajar yang ada dalam pelayanan untuk remaja pada jemaat tersebut, uraiannya ialah berdasarkan hasil wawancara dengan seorang pendeta yang menjadi pelayan bagi jemaat Tumbang Apat. Berikut ini penulis menguraikan gambaran umum hasil wawancara tersebut :
a.      Keadaan Murid dan Aktivitas Yang Digemari
Berdasarkan hasil wawancara dengan Pdt. Jimmy S.Th,[5] setelah sekitar Sembilan bulan mengajar di SHM dan SPR Jemaat Tumbang Apat ia mengatakan bahwa ia merasakan adanya peningkatan dalam pelayanannya. Secara khusus dari segi pelayanannya terhadap SPR ia mengatakan bahwa SPR tempatnya melayani adalah remaja-remaja yang unik, kreatif dan mau sungguh-sungguh belajar tentang firman Tuhan, cara berorganisasi, dan juga bagaimana mengembangkan kreatifitas diri mereka.[6] Hal itu dia ungkapkan sebagai suatu antusias melihat para remaja yang dia layani itu sudah mau “membuka diri” untuk belajar hal-hal yang potitif, contohnya kata Jimmy  “anak-anak remaja itu tidak malu lagi untuk tampil menyanyi ketika ada Safari Natal Bupati Murung Raya pada desember kemarin dan apa yang mereka tampilkan mendapat sambutan yang cukup meriah dari Pak Bupati”. Itu merupakan sebuah perkembangan katanya, mengingat ketika ia tiba disana sembilan bulan yang lalu, kegiatan jemaat sama sekali tidak ada yang menyangkut pelayanan terhadap remaja. Ketika penulis bertanya tentang aktivitas apa yang paling digemari oleh remaja yang dilayaninya, dia mengatakan bahwa seperti halnya remaja lain remaja di jemaat inipun memiliki kesenangan berkumpul dengan temannya, rekreasi, misalnya ke air terjun dan juga masak bersama-sama. Didalam pelayanannya sendiri ia mengatakan bahwa para remaja itu akan sangat antusias apabila diajak kebaktian padang bersama dengan remaja-remaja dari kampung atau jemaat yang lain. Dari jawaban Pembina pelayanan SPR di Jemaat GKE Desa Tumbang Apat tersebut penulis melihat ada beberapa aktivitas yang ternyata paling digemari oleh remaja setempat yaitu diantaranya :
·         Rekreasi atau retreat
·         Berkumpul dengan teman-teman
·         Berdiskusi ( sharing )
Penulis menyimpulkan ketiga hal tersebut berdasarkan keterangan dari Pembina SPR setempat yang telah melihat kondisi yang ada ketika dia melayani mereka.
b.      Keadaan Guru ( Pembina ), Masalah Dalam Melayani dan Kebutuhan Murid ( Remaja yang dilayani ).
Dalam melayani SPR di jemaat Tumbang Apat, Jimmy juga mengungkapkan bahwa minat yang paling ia minati ialah melakukan metode ceramah yang menurutnya juga sangat diminati oleh remaja yang dilayaninya dan cukup mudah untuk dimengerti dan diikuti oleh mereka. Tetapi melayani remaja disitu juga harus menghadapi berebagai masalah, dari segi murid, Jimmy mengatakan sangat sulit untuk mengajar karena kebanyakan dari remaja disana mkasih suka ngobrol dan tidak serius ketika mengikuti ibadah yang berlangsung. Selain masalah dalam menghadapi murid-murid, permasalahan juga terjadi dengan sarana dan prasarana yang sangat minim untuk mengajar, misalnya buku-buku yang berisi panduan metode untuk mengajar tidak dimiliki, selain itu keterbatasan sarana penunjang yang lain juga masih dibutuhkan misalnya kerja sama antara anggota majelis jemaat, ketua jemaat dan perhatian dari majelis resort terhadap pelayanan itu sangat kurang. Ia menyampaikan bahwa inisiatif mengajar SPR itu dia ambil sendiri, mengingat sangat pentingnya pendidikan untuk remaja itu sebagai penerus gereja, tetapi cenderung tidak diperhatikan pelayanan terhadap mereka oleh gereja setempat. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa yang sangat diharapkan dalam pelayanan itu ialah kerja sama semua pihak, terutama ketua jemaat setempat dengan tenaga pelayan. Dalam melayani remaja, kebutuhan tentang keuangan juga sangat diperlukan, ini bisa digunakan sebagai dana apabila harus menjalankan suatu proyek atau program, contohnya rekreasi atau retreat. 
Kebutuhan remaja setempat ialah, dengan melihat dari kondisi yang ada bahwa remaja sedang menjalani masa transformasi dalam dirinya tentu remaja membutuhkan pengenalan dan hubungan yang intim dengan Allah agar mereka tidak terperosok kedalam pergaulan yang salah mengingat masa remaja adalah masa yang rentan godaan untuk mencoba hal-hal baru, penerimaan dari teman-teman dan lingkungan sekitarnya dan juga bagaimana ia mengasihi menerima dan menghargai orang lain, selain itu bimbingan, pengajaran serta peran orang tua yang memadai sangat dibutuhkan juga oleh mereka. Semua itu merupakan beberapa kebutuhan mendasar diantara sekian banyak hal yang mereka butuhkan melalui pelayanan seorang guru atau Pembina agar mampu menuntun remaja-remaja tersebut dalam bertumbuh. Kebutuhan tersebut hanya bisa dicapai dengan pelayanan yang baik terhadap mereka, pelayanan yang baik itu tentunya juga hanya bisa dicapai apabila seorang guru atau Pembina remaja tersebut difasilitasi oleh kemampuan mengajar yang baik pula. Fasilitas-fasilitas yang menunjang proses belajar mengajar juga sangat berperan penting, demikian juga peran para majelis jemaat bahkan sampai majelis yang menangani resort tersebut diharapkan bisa membantu Pembina untuk menyediakan fasilitas mengajar seperti buku-buku dan bahan mengajar yang sekiranya memadai sesuai kebutuhan dari tempat pelayanan. Jimmy juga mengatakan kesulitan terbesar dalam pelayanannya selama ini ialah faktor finansial, sulit sekali melaksanakan suatu pendidikan tanpa modal uang.  Selama dia mengajar di SPR tersebut, hanyalah iuran dari peserta didiknyalah yang memampukan ia untuk melaksanakan kegiatan mengajarnya. Dengan demikian tentulah kesadaran dari jemaat setempat harus lebih tinggi lagi demi para remaja yang tengah belajar. Kesadaran tersebut ialah adanya harapan agar jemaat juga turut serta memperhatikan pelayanan terhadap para remaja tersebut. Pada masa-masa remaja, seseorang sangat memerlukan tuntunan yang benar dari semua pihak, tidak terkecuali para anggota jemaat dan juga orang tua. Agar iman mereka semakin terbentuk, dan hubungan mereka terjalin dengan Tuhan mereka sangat memerlukan pembinaan dan pengajaran, disitu tentu ada proses belajar mengajar yang juga tentunya ditekankan kualitas guru yang mengajar. Untuk mendapatkan kualitas hasil mengajar yang baik seorang guru tentunya harus mempunyai bahan-bahan mengajar yang baik pula, panduan mengenai metode-metode tertentu dalam mengajar. Itu merupakan situasi umum yang dihadapi sebagai masalah bagi penunjang pengajaran terhadap SPR di jemaat tersebut. Dalam mengajar kesulitan juga dihadapi karena murid yang diajar banyak yang datang hanya karena mau rame-rame dengan teman, masih ada yang suka rebut, kurang serius dan ada pula yang pasif saja. Ini tentunya membutuhkan kesabaran dan juga sebuah metode yang tepat untuk menyikapi hal tersebut dari seorang guru.
Menanggapi permasalahan diatas, menurut wawancara penulis dengan Pembina SPR setempat, ada beberapa hal yang perlu menjadi penekanan sebagai jalan keluar. Kemungkinan-kemungkinannya ialah diadakannya pertemuan antara Pembina dengan majelis jemaat, perhatian dari jemaat untuk memfasilitasi pendidikan atau pelayanan terhadap remaja tersebut, dengan demikian upaya pembinaan terhadap mereka bisa berjalan dan mencapai hasil yang diinginkan.

Upaya Pengembangan Program Untuk Pelayanan SPR Berdasarkan Kebutuhan Remaja Sesuai Hasil Survey
Cara untuk mencapai tujuan pengajaran dalam suatu program pengajaran di sebut metode pengajaran. Seorang guru atau Pembina Seksi Pelayanan Remaja (SPR) tidak hanya menunjukkan tujuan pengajaran kepada murid-muridnya, tetapi ia juga harus menguasai metode pengajaran yang memungkinkan murid-muridnya bisa tiba pada tujuan itu. Yesus sendiri menegaskan bahwa dirinya sendiri itulah jalan untuk mencapai tujuan itu. Karena itu, seorang guru atau Pembina SPR harus mampu memperkenalkan serta membawa murid-muridnya kepada Yesus sebagai satu-satunya jalan bagi keselamatan mereka.  Seperti hasil wawancara penulis dengan Pembina SPR diatas, ia melihat bahwa umumnya kebutuhan kaum remaja adalah pengenalan terhadap Tuhan, itu sesuai juga dengan asumsi penulis melihat kondisi remaja yang pada saat ini hidup ditengah kemajuan zaman yang dihiasi pula oleh kemajuan teknologi dan modernisasi. Pembinaan terhadap remaja-remaja Kristen untuk mengarahkan dan memperkenalkan mereka kepada Tuhan, mengingat usia remaja yang kritis dan tidak mudah percaya begitu saja. Jadi pengenalan itu bisa dilakukan menggunakan sebuah program pendidikan yang terorganisir dengan baik dengan menggunakan metode yang tepat dan mampu membuat remaja-remaja itu mengalihkan perhatian mereka kepada ajaran kekristenan dan mengidentitaskan Kristus dalam diri dan hidup mereka sehingga mampu bertumbuh menjadi warga Negara dan warga gereja yang siap berhadapan dengan realitas zaman.
Berikut adalah contoh programing PAK yang menjawab salah satu dari sekian banyak kebutuhan remaja-remaja kita :
Sasaran                       : Kaum Remaja
Kebutuhan Remaja   : Mengenal Allah dan karyanya dalam diri kaum remaja

Pelaksana                         :     1. Pendeta dan Majelis Jemaat
                                          :     2. Pembina remaja
                                          :     3. Orang tua
                                          :     4. Remaja yang bersangkutan

Alokasi waktu                  :     Berkesinambungan ( diharapkan program yang disampaikan selalu  relevan dalam   kehidupan kaum remaja ), meteode yang dilakukan bisa disesuaikan dengan situasi.
Tujuan kompentensi       :    Membentuk kesadaran remaja untuk lebih dekat dan mengenal Tuhan  secara intim, sehingga remaja yang sedang dalam pertumbuhannya bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang beriman. Remaja membentuk sikap diri yang religious dan membuat dirinya lebih diterima dalam masyarakat.
Substansi                          :     Menjawab tantangan dari realitas yang ada, bahwa dalam perkembangannya remaja relatif kritis terhadap berbagai hal termasuk agama dan Tuhan. Pada usia remaja kehidupan beriman menurun kadarnya, ini disebabkan karena usia remaja umumnya lebih tertarik dengan hal-hal logis seperti yang ditawarkan oleh ilmu pengetahuan, dengan demikian suatu ajaran agama tentang Tuhan yang diluar logika akan membuat remaja itu menjadi bingung. Dengan itu maka kehadiran PAK bagi Remaja akan sangat berpengaruh dan berperan penting dalam rangka membentuk jati diri dan pengenalan mereka akan Allah yang adalah sumber ilmu pengetahuan.
Metode        : 
Ø  Persekutuan Remaja
Persekutuan remaja biasanya menjadi bagian pelayanan kategorial dalam gereja. Para remaja berkumpul bersama dalam suatu ibadah yang sudah ditentukan jadwalnya. Metode ini disesuaikan dengan hobby dari kaum remaja yang biasanya cenderung suka berkumpul. Jadi PAK disini muncul dengan memberikan sosialisasi bahwa berkumpul dalam rangka ibadah lebih bermanfaat daripada berkumpul yang tidak jelas manfaatnya.
Ø  Sharing
Keadaan dan sifat remaja yang kritis dan juga ingin didengarkan dapat dilakukan dengan memakai metode ini. Sharing dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu orang pendamping setiap kelompok. Di sini diajarkan komitmen untuk menjaga kepercayaan bersama, saling berbagi pengalaman, dan mencari solusi berbagai masalah bersama-sama pula.
Ø  Retreat & Kebaktian Padang
Remaja juga umumnya senang ke tempat-tempat yang unik, dengan demikian bentuk pelayanan dengan menggunakan metode yang berjenis “rekreasi” akan memberikan kemudahan untuk mebawa para remaja untuk belajar tentang Tuhan, ditempat yang sesuai dengan keinginan mereka, pastinya mereka akan lebih bersemangat mengikuti kegiatan yang kita programkan.  Mengasingkan diri sesaat dari keramaian dapat menolong pertumbuhan spiritualitas para remaja. Suasana hening akan memberi ruang lebih bagi PAK yang akan disampaikan. Tujuannya ialah agar dalam keadaan sesibuk apapun para remaja tetap menyediakan waktu khusus untuk dia bersekutu dengan Tuhan secara pribadi mau secara bersama-sama orang percaya. Para remaja juga akan dapat bersosialisasi dengan teman-temannya, saling memupuk dan mempererat kebersamaan untuk saling membangun untuk mencapai tujuan yang diidam-idamkan.

Evaluasi          :  Setelah melaksanakan program dengan menggunakan salah satu dari metode   yang ada, maka seorang Pembina harus melakukan evaluasi terhadap hasil yang dicapai dalam proses belajar mengajar tersebut, ini menyangkut sejauh mana metode yang digunakan tersebut dalam memjadi fasisilitator dalam mencapai tujuan, jika metode yang digunakan dalah sharing maka evaluasi yang dilakukan bisa dengan memberikan angket untuk diisi tentang apa yang murid dapatkan dari topic yang dibicarakan saat metode itu berlansung.

Dari usulan program diatas, penulis akan memberikan contoh pelaksanaan untuk satu kali pertemuan atau kegiatan dengan menggunakan salah satu dari metode yang diusulkan :

Contoh Pelaksanaan Program PAK Dalam Satu Kali Pertemuan
Dasar Alkitabiah : Yohanes 3 : 22-36
Tema              : Mengenal Siapakah Sesungguhnya Yesus itu ?
Setting             : Di tempat-tempat yang disenangi oleh remaja yang umumnya berbaur dengan alam, misalnya dipadang atau dipantai.
Metode            :  Melalui Retreat, yang didalamnya diisi kegiatan :
§  Pendalaman Alkitab/Meditasi
§  Merenungkan nast yang telah ditentukan
§  Mencatat hal-hal penting yang dibaca
§  Mencatat hal-hal yang didapat,
Ajak mereka untuk merenungkan bersama-sama tentang siapa Yesus sesungguhnya, apa yang Yesus inginkan dari manusia, apa yang akan diperoleh oleh seseorang yang beriman dan percaya pada Yesus.
                 
Tujuan                       :     Para remaja bisa merenungkan dan mengetahui, siapa sesungguhnya Yesus, dan apa peran Yesus dalam diri mereka sehingga mereka menyadari bahwa Yesus adalah akar dan sumber dari kehgidupan remaja itu sendiri.

Sebagai Evaluasi       :    Setelah kegiatan itu selesai berikan semacam angket ke tiap-tiap orang berilah mereka waktu menurut hari yang ditentukan untuk membawa angket tersebut. Didalam angket tersebut kita buat beberapa pertanyaan, misalnya :
·         Setelah mengikuti kegiatan retreat, apa yang didapatkan oleh mereka ?
·         Bagaimakah perasaan mereka selama ini tentang Yesus dalam hidup mereka ?
·         Bagaimanakah sikap mereka sekarang terhadap Yesus ?
·         Apa pesan yang mereka dapatkan melalui nast tersebut ?
·         Apa komitmen dari mereka terkait hubungan mereka dengan Tuhan ?
Diatas adalah contoh pelaksanaan program secara sederhana dalam satu kali pelaksanaan, untuk lebih mudah memahaminya penulis akan memberikan contoh sistem program tersebut dalam bentuk bagan agar bisa menjadi sebuah acuan untuk membuat program, menetapkan metode, dan mengevaluasikan hasil pembelajaran, berikut adalah bagan dari siklus pelaksanaan suatu program :

Text Box: GURU/Pembina SPR           

           
Text Box: MURID                         


















Text Box: MATERI YANG DISAMPAIKAN




Text Box: METODE








Text Box: MEDIA











Text Box: SUMBER



Text Box: SARANA




 











Bagan tersebut sengaja penulis buat agar seorang Pembina atau guru dalam pelayanan SPR bisa memahami sistem dalam pengajaran yang tepat. Suatu program akan tepat guna bila sistem yang dipakai juga tepat. Dalam banyak hal, apapun metode yang dilakukan tidak akan pernah berhasil jika tidak dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang baik, ramah dan sejiwa dengan gaya remaja yang diajar. Remaja membutuhkan sosok guru yang ramah, peduli, mengerti dan tidak pilih kasih dalam mengajar, cerminan Kristus harus selalu ada dalam seorang Pembina atau guru dalam kategori apapun, dengan demikian apa yang diajarkan akan mudah melekat dihati muridnya.



Daftar Bacaan :
Ø  Nuhamara, Daniel. Pendidikan Agama Kristen Remaja. Bandung : 2008. Jurnal Info Media.
Ø  Alkitab
Ø   Sene, Alfons Kita Berkatekese Bagi Remaja Flores NTT : 1989.  Penerbit Nusa Indah.
Ø  Mangunhardjana, A.M. Pendampingan Kaum Muda. Yogyakarta : 1986, Penerbit Kanisius.
Ø  Tacoy, Selvester M. 6 Kunci Sukses Melayani Kaum Muda. Jakarta : 2008 . Yayasan Kalam Hidup.





[1] Alfons Sene, Kita Berkatekese Bagi Remaja ( Flores NTT : Penerbit Nusa Indah 1989 )
[2] Bdk. A.M. Mangunhardjana, Pendampingan Kaum Muda ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius 1986 ) hal 16
[3] Bdk. Selvester M. Tacoy , 6 Kunci Sukses Melayani Kaum Muda ( Jakarta : Yayasan Kalam Hidup 2008 ), hal 11
[4] Opcit hal 14
[5] Pdt. Jimmy adalah pelayan dari GSJA yang bekerja untuk GKE Resort Permata Intan di Jemaat Tumbang Apat.
[6] Wawancara dengan Pdt. Jimmy,  Sabtu tanggal 19 Mei 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar