Kamis, 06 September 2012

Misi Dalam Perjanjian Lama


Misi Dalam Perjanjian Lama
Misi dalam Perjanjian Lama dikaitkan dengan pemilihan Israel sebagai bangsa yang dipilih Allah dan juga hubungan Israel dengan bangsa - bangsa lain. Untuk itu kita perlu memperhatikan 3 aspek dari pemilihan Israel, yakni :
a.      Aspek Universalisme
Pada halaman pertama dari kitab suci, kita sudah diperhadapkan dengan perbuatan – perbuatan Allah terhadap seluruh dunia. Ia bertindak secara universal. Kisah penciptaan langit dan  bumi, dan penempatan manusia di dalamnya merupakan prasejarah bagi Israel, dan serentak pula sebagai prasejarah bagi keselamatan seluruh dunia (Kej 1-11). Tetapi prasejarah ini juga memperlihatkan bagaimana kejahatan merembes masuk kedalam dunia. Keadaan yang demikianlah, yangh menjadi latar belakang pemanggilan Abram (Kej 12). Ia dipanggil untuk pergi dari sanak saudaranya meninggalkan dunia orang kafir, tetapi Tuhan yang memanggil itu berjanji bahwa ia akan menjadi berkat untuk semua kaum dimuka bumi. Kisah pemilhan Abraham dan keturunannya merupakan persiapan bagi Israel yang berwujud keluaran dari Mesir. Dengan memilih umat Israel maka Allah mengarahkan pandanganNya keseluruh dunia. Dalam hubungan ini, maka pentinglah bunyi Keluaran 19 : 5 - 6. Kekudusan dan Keimaman menyatakan fungsi pelayanan. Selaku pengantara Israel juga melayani bangsa-bangsa lain (Yes 61 : 6).
            Israel diantara segala bangsa merupakan suatu gambaran pemerintahan Allah dan suatu gambaran pelayanan selaku imam. Hal ini dinyatakan pula dalam Ul 7 : 6, dimana kasih sebagai dasar pemilihan ditekankan “ Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu dari segala bangsa diatas muka bumi untuk menjadi umat kesayanganNya sendiri”. Israel adalah suatu alat dalam tangan Tuhan, suatu tahap dalam rencana Allah. Yang dituju ialah keselamatan dunia.
            Pemilihan atas Israel adalah jalan yang ditempuh Allah untuk mencapai tujuanNya, yaitu pengakuan namaNya oleh seluruh bangsa-bangsa. Universalisme – keselamatan dibentangkan pula dalam beberapa kitab lain seperti Rut, Yesaya 40-55, dan juga kitab Yunus. Dalam kitab Yunus dengan tegas menentang sikap partikularisme ( pembatasan keselamatan bagi diri sendiri saja). Dalam bentuk perumpamaan, kitab Yunus mau memperingatkan kepada orang-orang Yahudi yang berada dalam pembuangan bahwa mereka tidak boleh menjadi suatu rintangan antara Yahwe dan orang-orang kafir(bangsa lain). Yunus yang adalah orang Israel dipanggil untuk menyatakan rahmat Yahwe terhadap Niniwe.



b.      Aspek Eskhatologia
Para nabi biasanya juga menyampaikan berita dari Allah kepada bangsa-bangsa. Seringkali mereka mengabarkan hukuman, baik kepada Israel maupun kepada bangsa-bangsa kafir, kadang hukuman atas Israel akan dilaksanakan oleh bangsa kafir, adakalanya kedengaran berita hukuman atas bangsa-bangsa akibat sikap mereka terhadap Allah Israel dan acapkali berita keselamatan untuk kedua-duanya, melihat keselamatan Israel, “maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menguduskan Israel” Yeh 37:28.
            Di dalam pemberitaan para nabi selalu saja ada pengharapan bahwa bangsa-bangsa l;ain akan ditarik menuju pusatkehadiran Allah Israel, lalu bangsa-bangsa lain itu akan mengaku namaNya. Keselamatan eskhatologis digambarkan dalam PL melalui gambaran tentang datangnya bangsa-bangsa lain berarak-arakan kearah Sion. Kedatangan itu merupakan gerakan yang sentripetal, menuju pusat dimana tersedia keselamatan, dimana ada Yahwe dan umatNya, pusat kehadiranNya, pusat dunia. Bangsa-bangsa akan datang kepada Israel dan Allahnya.
            Bukanlah Israel yang bertindak, bukanlah bangsa-bangsa yang bertindak tetapi Allah sendirilah yang bertindak terhadap Israel dalam pusat sejarah dan pusat dunia, dan dengan jalan demikian segala bangsa akan datang untuk melihat dan akhirnya untuk disangkut pautkan dalam drama - keselamatan. Disini bukanlah Israel yang menjadi saksi tetapi bangsa-bangsa akan menyaksikan apa yang terjadi di Israel, sehingga ad ketertarikan untuk mencari Allah Israel.

c.       Masa Depan Mesianis
Di dalam pengharapan Israel akan masa depan, pemegang kunci ialah Almasih ( Mesias ) yang dijanjikan selaku pembawa keselamatan.atau lebih tepat lagi, Ia merupakan poros berkisarnya zaman yang akan datang, yang dipentingkan dalam gambaran tentang zaman yang akan datang itu ialah pemerintahan Tuhan atas Israel dan atas bangsa-bangsa lainnya, dan pemerintahan itu akan didatangkan dan dilaksanakan oleh oknum mesianis sebagai penyelamat. Sering kali pengharapan itu berpusat  pada diri Daud dan keturunannya yang akan memerintah dengan adil dan damai pada masa depan sebagai raja yang diberikan Allah. Kadang-kadang pula pengharapan mesianis berpaut pada orang yang diurapi Tuhan, baik yang memangku jabatan sebagai raja maupun sebagai imam dan juga sebagai nabi, ( Mzm 2, 110, dan Yes 61 ).
Perhatian khusus diberikan kepada Hamba Tuhan yang menderita seperti nampak dalam dalam Yes 40-55, yakni yang berbicara mengenai penderitaan sengsara. Masa depan mendekat hanyalah melalui sengsara, itulah penderitaan yang mendahului lahir zaman baru. Penderitaan ini merupakan “his” ( kesakitan beranak ) yang harus dialami atau yang diwakili oleh sisa-sisa umat Allah yang setia, yang kemudian pada akhirnya diwakili oleh seorang hamba Yahwe yang patuh. Jadi “his” mesianis ini menderita sebagai ganti orang lain. Ia mendirikan Israel memberikan kepadanya penghiburan dan kekuatan baru, terutama pengharapan untuk pulang ketanah airnya. Ia kan membuat Israel baru dengan memberikanya keadilan hukum. Dengan demikian ia menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang bagi bangsa. Keselamatan yang dikaruniakan Tuhan kepada kepada Israel mempunyai aspek universal, Israel yang dibaharui karena diberikan keselamatan dari Tuhan menjadi pembawa keselamatan sampai ke ujung buimi Yes 49 : 6. Keselamatan yang dari Allah Israel itu diperuntukan sampai ke ujung bumi. Ujung bumi berarti pinggir wilayah penciptaan atau pembatasan antara terang dan gelap. Dan kepada segala ujung bu8mi itu diserukan agar mereka berpaling kepada Tuhan, Yes 45 : 22. Jadi dalam hal ini peranan Israel tidak aktif keluar, tetapi pasif, yaitu menanggung penderitaan. Hamba itu menderita bagi Israel dan Israel menderita bagi banyak orang.
Persfektif terakhir ialah pembaharuan penciptaan, langit yang baru dan bumi yang baru, Yes 65 : 17 ; 66 : 22, dimana tidak aka nada lagi tangisaan dan
 penindasan dan juga kesia-siaan. Perspektif terakhir dari pengharapan Israel merupakan pada tindakan Allah melalui penciptaan langit dan bumi. Israel dipanggil untuk mengharapkan dan memprjuangkan suatu kerajaan damai bagi seluruh dunia. “Yang menjadi Penebusmu ialah yang maha kudus, Allah Israel. Ia disebut Allah seluruh bumi.
Dari pembahasan diatas, dapat kita ambil beberapa hal yang merupakan kesimpulan dari PL mengenai peran Israel. Disini kita lihat bahwa Israel mempunyai fungsi sebagai perantara dalam rencana Allah. Israel harus menerima dengan taat keselamatan yang dari Allah, janji-janjiNya dan hukum-hukumNya, supaya dapat memperlihatkan kepada bangsa-bangsa lain siapa Allah Israel, ia harus menjadi daya penarik bagi bangsa-bangsa lain. Fungsi sebagai perantara ini menegaskan bahwa Israel memiliki tiga aspek yakni, kerajaan, keimaman dan kenabian bagi dunia.

TANGGAPAN :
Buku Missiologia oleh DR. ARIE DE KUIPER, secara umum sangat membantu untuk mengarahkan pemikiran tentang tujuan dan maksud yang harus kita dalami mengenai misi, atau pekabaran Injil. Kelompok kami mendapat bagian menguraikan mengenai Misi Dalam Perjanjian Lama, pada bagian ini ARIE menerangkan secara khusus mengenai pemanggilan Abram dan keturunannya dan juga misi dalam Perjanjian Lama, pelaksanaan misi Allah, yaitu agar seluruh bumi diselamatkan, dan keluar dari kegelapan dan berpaling menuju terang yang ada pada Allah Israel.  Buku Missiologia ini pada bagian Misi dalam Perjanjian Lama menguraikan dengan jelas sekali aspek-aspek misi pada masa itu baik secara aspek universal, eskhatologia dan aspek masa depan mesianis yang merupakan penggenapan dari tujuan misi dalam PL. Secara tersirat dari membaca bagian ini kita dapat memahami bahwa misi adalah bagian dari rencana tentang sebuah karya Allah bagi umat manusia. Melalui bagian ini pula kita bisa memahami bahwa karya pemanggilan Allah terhadap Israel bukanlah merupakan alasan untuk menolak bangsa manapun di dunia, melainkan satu-satunya cara untuk memberkati mereka semua.[1] Jadi melalui bagian Misi Dalam PL ini kita sudah sangat jelas memahami pungsi keberadaan Bangsa Israel dalam karya penyelamatan Allah tehadap seluruh bangsa-bangsa dibumi. Melaui pembahasan itu pula kita memperoleh pengetahuan tentang fungsi bangsa Israel yang menjadi, kerajaan, imam, dan citera kenabian bagi bangsa-bangsa dibumi dalam rangka pelaksanaan misi penyelamatan dunia oleh Allah sendiri. Jadi kelompok kami berpendapat bahwa buku ini cukup baik dan relevan dalam fungsinya untuk membuka wawasan serta pengetahuan kita tentang apa dan bagaimana sesungguhnya misi itu dalam Perjanjian Lama.

APKLIKASI MISI :
Sebagai seorang calon Pendeta, kita pada saat ini diperhadapkan pada sebuah realitas mengenai adanya penyimpangan tujuan misi. Pada pembahasan diatas, jelas sekali apabila kita dipilih dan kemudian dipanggil seperti layaknya Abraham dan Israel, maka tugas kita ialah menyampaikan dan sekaligus melaksanakan mandat Allah, yaitu kita dipanggil, dididik dan nantinya diutus atas dasar semata-mata karena tujuan misi, yaitu membentuk pribadi yang percaya dan beriman kepada Allah serta memberitakan mengenai karya-karya penyelamatan Allah kepada setiap orang. Tetapi dewasa ini, realitas yang dihadapi kita semua sebagai umat yang dipilih melalui pengorbanan Kristus di kayu salib ialah, adanya kecenderungan tujuan misi itu tidak lagi pada tujuan yang semula, tetapi lebih mengarahkan diri kepada keinginan individu atau sangat duniawi, tidak hanya semata pada lembaga-lembaga kekristenan saja, hal tersebut juga kerap melanda kita sebagai mahasiswa dan mahasiswi teologi yang seyogiyanya memang dirancang sedemikian rupa untuk bersekutu, bersaksi dan melayani, sehingga akhirnya dunia ini mendapatkan terang kasih Allah melalui kita.
Lalu apa yang mesti kita lakukan dalam rangka menghadapi realitas yang ada, realitas dimana kita dihadapkan pada tugas pemanggilan yang semula yaitu menyampaikan dan menjadi pelaksana misi Allah. Tidak mudah memang, tetapi baiklah kita berusaha, kita yang sebagai mahasiswa serta mahasiswi teologi mulai sekarang sebaiknya memahami dan menyadari mengapa kita dipanggil, mengapa kita harus sekolah disini, bukankah semuanya itu adalah bagian dari rencanba Allah terhadap hidup kita,? Bukankah Ia telah memilih kita dari sekian banyak orang untuk menempuh pendidikan disini yang tentunya adalah tempat berlatih dan mempersiapkan diri menjadi seorang pekerja Allah. Tetapi terkadang dalam pemikiran kita sering kali kita berfikir kearah yang lain, kita sekolah ditempat ini karena kita nantinya setelah lulus pasti mendapat pekerjaan yang akan menghasilkan uang, ketika kita menjadi seorang Pendeta pasti nanti kita akan paling terkenal, kita akan menjadi menjadi ketua resort bahkan ketua sinode, kita akan menjadi dekat dengan pemimpin-pemimpin yang tentu akan memudahkan kita mendapatkan penghasilan yang banyak baik dari segi finansial dan lainnya, jadi ada motivasi lain dari diri kita ketika menjalani panggilan kita tersebut . Itulah hal-hal yang kami sebut sebagai penyimpangan tujuan misi, karena sesungguhnya tujuan misi semata-mata mengabarkan keselamatan, dan menjadi daya tarik bagi umat lain untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Jika kita menjadi seorang Pendeta, biarlah kita menjadi Pendeta yang benar-benar mengutamakan tujuan panggilan tersebut, yaitu melayani dan menjadi teladan bagi kehidupan dunia ini, biarlah melalui kita selalu  terpancar terang kasih Allah, dengan demikian jadilah kita Pendeta yang baik supaya janganlah seperti para ahli Taurat dan orang Farisi yang dikecam oleh Yesus dalam  firman Tuhan yang mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu, dan sesudah dia bertobat kamu menjadikan dia orang neraka yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri” ( Mat 23 : 15).  Ayat firman Tuhan tersebut ingin membawa kita merefleksikan dan mengintrofeksi diri kita dan semua orang yang bekereja dalam melaksanakan misi Allah, apakah kita mau setia pada tujuan yang semula atau kita akan menjadi seorang Ahli Taurat dan orang Farisi seperti yang dikecam oleh Yesus diatas, yaitu menyerukan sesuatu yang sia-sia.
Jadikanlah diri kita seorang pelaksana misi Allah yang menginginkan keselamatan universal bagi dunia. Amin.
 


Daftar Bacaan :

Ø   Alkitab
Ø  Kuiper, de Arie. (2004) MISSIOLOGIA. Jakarta. BPK Gunung Mulia.
Ø  Stott, John R.W. ( 2007 ) Misi Menurut Persfektif Alkitab. Jakarta. Yayasan Komunikasi Bina Kasih.   














RESUME BUKU MISSIOLOGIA BAB II
Untuk Memenuhi Tugas  Kelompok
Mata  Kuliah:
SEJARAH MISI
Dosen  Pengampu:
Pdt. Kinurung Maleh Maden M.Th, MA.
 






Oleh:
Erikc S. Madan
Hendri
Lida Kristeni
Mahdalena
Misa Handayani
Novita Kristia

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI
GEREJA KALIMANTAN EVANGELIS
BANJARMASIN FEBRUARI 2012




[1] Bdk. John R.W. Stott, MISI menurut PERSFEKTIF ALKITAB ( JAKARTA : Komunikasi Bina Kasih, 2007), hal 42

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar